Keluhan Orang Tua terhadap Anaknya

Sumber Gambar: sekolahorangtua.com

Sumber Gambar: sekolahorangtua.com

Memiliki anak adalah kebanggan bagi orang tua. Anak ibarat harta tak ternilai dalam sebuah rumah tangga. Tak jarang, orang tua yang belum diberi momongan, akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan buah hati, meskipun dengan mengadopsi. Anak dapat menjadi perekat keluarga, manakala orang tua sudah semakin menipis rasa cintanya.

Dalam beberapa kasus, kehadiran anak justru menjadi malapateka dalam lingkungan keluarga. Kasus hamil sebelum nikah mendominasi dari sekian sebab. Pembuangan bayi di sembarang tempat, meninggalkan bayi di rumah bersalin,  masih dilakukan oleh kedua orang yang tak bertanggung jawab. Mungkin malu menanggung perasaan.

Anak menjadi beban dalam rumah tangga sering dijumpai. Keluarga sudah kewalahan membenahi tingkah anak. Kedua orang tua telah berusaha dengan menggandeng orang lain, agar anak seperti yang diidam-idamkan. Ada yang berhasil, namun banyak pula yang gagal.

Kegagalan biasanya berawal dari keterlambatan penanganan anak. Kurang komunikasi dengan anak. Tidak sabar, tergesa-gesa agar memperoleh hasil, hanya agar anak cepat-cepat sembuh dari kenakalan.

Orang tua sendiri malah justru mencari kelemahan-kelemahan yang dimiliki anak. Mereka tak bangga dengan potensi yang dimiliki anak. Keluhan demi keluhan terus mengalir dari penilaian anak setiap saat. Keluhan ini biasanya meliputi :

Personality anak : Orang tua sering menilai bahwa anak malas, tidak disiplin, tidak respek, tidak rapi, pemarah, egois, tertutup, pelupa, suka menunda, tidak bertanggung jawab, pembaca bisa meneruskan sendiri penilaian negatif terhadap anak. Tanpa disadari bahwa anak sedang dalam proses belajar. Sabar butuh waktu. Tidak rapi membutuhkan suasana lingkungan yang rapi, pelupa harus diingatkan secara terus menerus, Tidak respek karena memang suasana keluarga kurang mendukung. Jadi, sebenarnya siapa yang harus disalahkan?

Prestasi anak : Orang tua hanya mengetahui bahwa hanya satu kecerdasan yaitu prestasi akademik. Orang tua macam inilah yang sebenarnya harus masuk sekolah lagi. Mereka tidak tahu, bahwa anak yang memiliki ketrampilan seni, cerdas dalam menata ruang, memiliki teman yang banyak merupakan kecerdasan.

Nilai kurang baik yang didapatkan dalam bangku sekolah menjadikan senjata untuk menakut-nakuti anak, sehingga tidak jadi mendapatkan hadiah adalah bentuk lain dari bullying dalam keluarga. Kalah dengan temannya, ketinggalan di kelas, dalam satu waktu tertentu adalah wajar. Tidak mungkin anak menguasai semua bidang pelajaran, dan unggul dalam ketrampilan.

Kehidupan Sosial anak : Memanfaatkan teknologi informasi, dari satu sisi merupakan keharusan. Akan tidak bermanfaat, bila internet lebih banyak digunakan untuk mainan. Memiliki teman karib adalah buah dari rasa syukur. Namun mengabaikan kewajiban utama sebagai seorang anak, hanya karena bermain dengan teman memang harus dihindari.  Waktu untuk pribadi dan keluarga menjadi terabaikan.

Lebih berbahaya lagi, bila terlalu cair dengan lawan jenis, Jaman sekarang sudah berbeda dengan dahulu. Namun saya akui, dari segi kesopanan, tata karma dalam masyarakat, pergaulan lawan jenis lebih baik jaman dulu. Mereka masih menjunjung etika yang dibangun oleh masyarakat.

Kecerdasan Anak : Lambat menangkap, pelupa, sulit menangkap makna, menurut hemat saya, memang ada anak yang mengalami demikian. Bukan berarti anak-anak tidak pintar. Namun mereka perlu media lain, selain komunikasi lisan. Merujuk teori belajar, bahwa media penyampaian pesan bukan hanya lisan. Bisa juga berbentuk verbal dan pengalaman langsung. Jadi kalau menghakimi anak dari satu sisi saja, kurang bijaksana.

One response to “Keluhan Orang Tua terhadap Anaknya

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s