Beberapa Hal Penting tentang Pendidikan Seks untuk Anak

Pendidikan Seks Anak (Foto: Health.Kompas.Com)

Jangan Bohongi Anak soal Seksualitas

Sangat penting memberikan pendidikan seks sedari dini. Alasan tabu harus disingkirkan jauh-jauh saat membicarakan seksualitas dengan anak. Anda tentu tak mau anak mendapat informasi keliru seputar seksualitas, kan?

Pendidikan seks, lebih tepatnya seksualitas, tak hanya terbatas pada pemahaman organ seksual beserta fungsinya ataupun tentang kesehatan reproduksi. Cakupannya lebih luas dari sekadar masalah seks semata.

Ada penekanan makna yang lebih luas sebagai individu perempuan dan laki-laki, agar seorang perempuan bisa menghargai keperempuanannya, seorang pria dapat menghargai kelaki-lakiannya, dan masing-masing menghargai lawan jenisnya.

“Itu sebabnya, sangatlah penting memberikan pendidikan seksualitas kepada anak sejak dini,” ujar Dra Clara Istiwidarum Kriswanto, MA, CPBC.

Pendidikan seks sudah bisa dimulai saat anak masih bayi, bahkan sejak dalam kandungan. Limpahan kasih sayang akan membuat bayi merasa nyaman. Tak hanya secara emosional, tetapi juga fisik, yaitu rasa nyaman dengan tubuhnya. Rasa nyaman pada tubuh ini sudah menjadi bagian dari pendidikan seksualitas.

Bayi yang mengompol dan segera diganti popoknya oleh orangtua dengan sentuhan kasih sayang merupakan salah satu cara membuat anak merasa nyaman. “Itu pendidikan seksualitas,” ungkap psikolog dari Jagadnita Consulting ini.

Bentuk citra positif

Hadirnya sentuhan kasih sayang, merasa dicintai dan dihargai, akan menumbuhkan konsep diri positif pada anak. Citra diri positif ini nantinya akan menjadi benteng pertahanan anak untuk menjaga dirinya dari pengaruh negatif. Dengan kata lain, jika seorang anak mempunyai citra diri positif, ia akan bisa mengatakan tidak pada hal-hal yang akan merusak dirinya.

Adanya konsep diri positif membuat anak berupaya menjaga dan menghargai diri serta lawan jenisnya. Pendidikan seks juga harus mengenalkan perbedaan lawan jenis. Anak perempuan perlu tahu apa yang terjadi pada anak laki-laki, seperti perubahan fisik, emosional, dan lain-lain.

Begitu juga anak laki-laki harus mengetahui hal-hal yang terjadi pada anak perempuan, seperti soal menstruasi. Dengan demikian, saat anak laki-laki melihat bercak darah pada rok teman wanitanya, ia tahu apa yang sedang terjadi.

“Ia tidak akan tertawa atau meledek. Malah dengan sopan akan memberi tahu temannya kalau ada noda darah pada roknya,” ujar psikolog lulusan UI ini.

Memberikan pendidikan seksual kepada anak bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Contohnya, saat anak hendak pipis dan memelorotkan celananya sebelum masuk kamar mandi, orangtua bisa mencegahnya. Ajarkan kepada anak untuk membuka celana di kamar mandi kalau mau pipis.

Begitu juga seusai mandi. Minta anak menggunakan handuk saat keluar dari kamar mandi, lalu mengenakan pakaian di dalam kamar. Atau ia bisa langsung memakai baju di kamar mandi. Dengan demikian, saat beranjak dewasa dan matang, anak memahami bahwa ada hal-hal yang bersifat pribadi yang seharusnya tidak dipertontonkan di depan orang lain.

Nama alat kelamin anak hendaknya disebutkan sesuai dengan nama ilmiahnya. “Sebutkan saja vagina dan penis. Kalau nama-nama ini sudah dikenalkan sejak kecil, begitu beranjak remaja, nama-nama itu tidak menjadi bahan tertawaan lagi,” paparnya.

Apa bedanya mata dengan alat kelamin? “Kita tidak menyebut mata sebagai bagian tubuh yang berkedip-kedip, kan? Nah, hal serupa harus diberlakukan pada anggota tubuh yang lain, termasuk alat kelamin,” jawab Clara.

Harus nyaman

Memberikan suasana nyaman kepada anak sangat penting dalam pendidikan seks. Rasa nyaman akan membuat anak tidak takut bertanya, apalagi takut dimarahi orangtua saat membicarakan seksualitas. Kalau orangtua belum tahu jawaban dari pertanyaan yang diajukan anak, katakan saja belum tahu.

Pada saat itu, diutarakan Clara, orangtua bisa mencari informasi sendiri atau malah bersama-sama dengan anak mencari jawaban yang benar melalui internet ataupun buku-buku. Intinya, orangtua tidak berbohong atau mengalihkan ke topik lain atas pertanyaan anak.

Clara menceritakan, tak jarang orangtua berbohong saat ditanya anaknya. Ada seorang ibu ditanya perihal kondom oleh anaknya yang baru duduk di kelas 5 SD, “Bu, kondom itu apa, sih?”

Kaget dengan pertanyaan tersebut, sang ibu tak tahu harus menjawab apa. Khawatir bila dijelaskan dengan tepat, ibu itu malah menjawab seperti ini, “Oh, itu kondominium yang lagi banyak dibangun.”

Jawaban ini lantas digunakan oleh sang anak untuk menunjuk kondominium dengan nama kondom. Anak itu pun lantas ditertawakan oleh teman-temannya. Akibatnya tentu buruk. “Anak merasa dibohongi ibunya,” tambahnya.

Daripada membohongi, lebih baik jelaskan saja perihal kondom itu. Katakan bahwa kondom merupakan alat kontrasepsi yang berguna untuk mengatur kelahiran.

Sebenarnya, dari topik kondom ini orangtua bisa menanamkan nilai-nilai moral kepada anak. Berikan pemahaman kalau kondom itu digunakan oleh orang yang sudah berumah tangga untuk mengatur kehamilan. Penjelasan lainnya juga bisa dimasukkan dari soal kondom tersebut.

Orangtua memegang peran utama dalam memberikan pendidikan seksualitas pada anak-anaknya. Ayah dan ibu sebaiknya menjelaskan soal seksualitas sebagai tim. Diskusi terbuka di hadapan anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, akan lebih baik.

Saran Clara, jadilah pendengar yang baik bagi anak. Dengan membuka diri, anak akan lebih terbuka kepada orangtua. Kalau ada informasi yang keliru, orangtua bisa meluruskannya.

Pendidikan Seks Harusnya Dimulai dari Keluarga

Masalah seksual masih tabu untuk dibicarakan, baik dalam keluarga maupun di luar lingkungan keluarga, sehingga banyak informasi keliru tentang pengetahuan seksual. Hal ini perlu segera dibenahi melalui pendidikan seksual sesuai usia dan pendidikan.

“Informasi mengenai seks banyak didapatkan dari media cetak dan elektronik yang sangat mudah diakses oleh anak-anak dan remaja, ” kata ahli penyakit kulit dan kelamin dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Sjaiful Fahmi Daili, Selasa ( 25/11), di Jakarta.

Agar tidak memperoleh informasi keliru mengenai pengetahuan seksual, lanjut Sjaiful, materi pendidikan seksual seharusnya diperkenalkan dalam keluarga dan di luar lingkungan keluarga terutama di sekolah. Karena sebagian masyarakat masi h tabu berbicara mengenai seksual, banyak anak perempuan kebingungan ketika pertama kali mendapat menstruasi, ujarnya.

Pemberian pendidikan seksual bukan berarti membuka peluang untuk perilaku seks bebas, melainkan lebih menekankan mengenai perbedaan lelaki dan perempuan secara seksual, kapan terjadi pembuahan, apa dampaknya jika berperilaku seks tanpa dilandasi tanggung jawab termasuk risiko terkena infeksi menular seksual, kata Sjaiful.

Berbagai jenis infeksi menular seksual pada perempuan dan laki-laki dapat menyebabkan infeksi saluran reproduksi atau ISR dan komplikasi yang berlanjut. Hal ini terutama karena keterlambatan diagnosis dan penanganan yang tidak tepat. Apalagi, beberapa jenis infeksi menular seksual pada wanita tidak menimbulkan gejala khas, ujarnya.

Sjaiful menjelaskan, ditinjau dari segi usia ternyata pasien IMS yang paling menderita adalah kelompok usia muda, karena perilaku dan kondisi biologisnya yang belum matang. Perhatian khusus harus diberikan kepada kelompok ini, khususnya para remaja yang selama ini terabaikan. Salah satunya, dengan mengenalkan pendidikan seksual disesuaikan umur dan pendidikan, kata dia.

Pendidikan Seks untuk Anak? Segera Berikan!

Perkembangan teknologi membuat seks tidak dianggap sakral lagi. Penemuan alat kontrasepsi oleh AS kemudian memicu revolusi seks di tahun 1960-an. Paradigma pun berubah. Seks dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja. Akibatnya pergaulan seks bebas pun marak.

Imbasnya juga dirasakan di Indonesia. Perubahan pandangan terhadap seksualitas terjadi sejak awal tahun 1980-an. Hal ini juga mengakibatkan perubahan dalam perilaku seksual termasuk di kalangan remaja.

Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya perubahan pandangan dan perilaku seksual tersebut. Contohnya, perkembangan iptek seperti internet, semakin longgarnya pengawasan dan perhatian orangtua dan keluarga akibat kesibukan, pola pergaulan yang semakin bebas dan lepas (sementara orangtua mengizinkan), lingkungan yang makin permisif, semakin banyak rangsangan seksual yang berasal dari luar dan fasilitas yang mendukung.

Aborsi Meningkat

Hubungan seksual pun kemudian bukan lagi menjadi sesuatu yang sakral. “Ironisnya, mereka tidak mendapat pendidikan seksual yang benar dan cukup. Bahkan mereka dihambat untuk menerima pendidikan seksual yang benar dan bertanggung jawab,” ujar Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, FACCS, dengan nada geram. Sayangnya, reaksi penolakan cukup kuat. Alasannya, antara lain karena pendidikan seks bukan budaya Indonesia, melainkan budaya Barat.

Sebenarnya, saat Abdurrahman Wahid menjadi presiden, salah satu pernyataannya yang sangat simpatik dan menunjukkan pengetahuan dan wawasan luas ialah “setuju pendidikan seks diberikan di sekolah”. Sayang, kata Prof. Wimpie, setelah Gus Dur lengser, persetujuan dilupakan dan lenyap ditelan waktu.

Tidak aneh bila timbul akibat yang dengan mudah dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa penelitian menunjukkan, remaja putra maupun putri pernah berhubungan seksual. Di antara mereka yang kemudian hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen remaja putri yang hamil pranikah mengaku taat beribadah.

Lalu penelitian di Bali tahun 1989 menyebutkan, 50 persen wanita yang datang di suatu klinik untuk mendapatkan induksi haid berusia 15-20 tahun. Menurut Prof. Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi.

Penelitian di Bandung tahun 1991 menunjukkan, dari responden pelajar SMP diketahui 10,53 persen pernah melakukan ciuman bibir, 5,6 persen melakukan ciuman dalam, dan 3,86 persen pernah berhubungan seksual. Akibatnya, makin banyak kasus kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS).

Sebagai catatan, angka kejadian aborsi di Indonesia setiap tahunnya cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun. “Dan 20 persen di antaranya adalah remaja,” kata Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali ini. Tindakan aborsi bisa menimbulkan bahaya, sekalipun dilakukan oleh dokter, meski tidak seberat seperti yang timbul akibat aborsi oleh tenaga tidak profesional.
“Perdarahan dan infeksi setelah aborsi mungkin saja terjadi, seperti juga robekan rahim. Tidak sedikit wanita yang mengalami kemandulan akibat infeksi setelah mengalami aborsi,” tambah Prof. Wimpie.

Informasi Keliru

Untuk itu, lanjut Kepala Bagian Andrologi di FK Universitas Udayana ini, pendidikan seks tidak bisa ditunda lagi. Tak hanya dari orangtua, tetapi juga pendidikan di sekolah. “Harus ada sekolah yang memeloporinya,” katanya dalam seminar yang diselenggarakan oleh Sekolah Pelita Harapan, Globe Asia, dan Kemang Village beberapa waktu lalu di Jakarta.

Ia melihat, pengetahuan remaja tentang seks masih sangat kurang. Faktor ini ditambah dengan informasi keliru yang diperoleh dari sumber yang salah, seperti mitos seputar seks, VCD porno, situs porno di internet, dan lainnya akan membuat pemahaman dan persepsi anak tentang seks menjadi salah.

Pendidikan seks sebenarnya berarti pendidikan seksualitas. “Suatu pendidikan mengenai seksualitas dalam arti luas,” tambahnya. Seksualitas meliputi berbagai aspek yang berkaitan dengan seks, yaitu aspek biologik, orientasi, nilai sosiokultur dan moral, serta perilaku.

Sesuai dengan kelompok usia berdasarkan perkembangan hidup manusia, maka pendidikan seks dapat dibagi menjadi pendidikan seks untuk anak prasekolah dan sekolah, pendidikan seks untuk remaja, untuk dewasa pranikah serta menikah.

Pendidikan seks untuk anak-anak bertujuan agar anak mengerti identitas dirinya dan terlindung dari masalah seksual yang dapat berakibat buruk bagi anak. Pendidikan seks untuk anak pra sekolah lebih bersifat pemberian informasi berdasarkan komunikasi yang benar antara orangtua dan anak.

Pendidikan seks untuk remaja bertujuan melindungi remaja dari berbagai akibat buruk karena persepsi dan perilaku seksual yang keliru. Sementara pendidikan seks untuk dewasa bertujuan agar dapat membina kehidupan seksual yang harmonis sebagai pasangan suami istri.

Sejak Bayi

Tanpa orangtua sadari, seksualitas anak berkembang sejak dini. Coba perhatikan bayi. Bayi menyusu karena dia merasa nikmat. Pada masa itu pusat kenikmatan berada di mulut atau oral. Sejalan usia, makin berkembang otot-ototnya sehingga anak senang dipeluk, ditimang. Di masa itu pusat kenikmatan ada di otot. Bila perkembangannya terhambat, mereka akan mengalami masalah seksual.

Namun, banyak orangtua yang tidak sanggup memberikan pendidikan seks di rumah. Alasannya, mereka tidak tahu apa yang harus dan layak disampaikan, mereka tidak tahu bagaimana harus mulai berbicara perihal seks, dan banyak orangtua beranggapan, sesuatu yang berkaitan dengan seks itu porno dan tabu.

Itu sebabnya, saat orangtua ditanya anak tentang seks umumnya tidak dapat berbicara, menjawab dengan marah, mengganggap anak tidak sopan sehingga mematahkan keingintahuan anak tentang seks yang ia rasakan.

Kalau orangtua malu atau tabu dalam memberikan pendidikan seks, bagaimana anak bisa memahami permasalahan itu dengan baik? Anda tentu tidak ingin putra putri yang beranjak remaja mendapat PMS, terinfeksi HIV, atau melakukan hubungan seksual pranikah. Jangan sampai masa depan mereka terenggut karena kehamilan pranikah atau kehamilan yang tidak diinginkan, yang bisa berlanjut pada aborsi, bahkan dapat berujung pada kematian.

Dibarengi Pendidikan Moral

Untuk mencegah dan menanggulangi akibat yang mungkin timbul karena perubahan pandangan dan perilaku seksual remaja, Prof. Wimpie mewanti-wanti orangtua untuk memperhatikan hal-hal berikut:

  • Perhatian dan pengawasan orangtua harus diberikan secara memadai, termasuk dalam hal seksualitas. Tentu mutlak dituntut contoh nyata orangtua dalam hidup sehari-hari.
  • Bekali remaja dengan pengetahuan seksualitas yang benar dan bertanggung jawab.
  • Remaja perlu mendapat pendidikan moral dan agama yang relevan dengan kehidupan mereka.
  • Ingatlah bahwa seksualitas berkembang sejak masa bayi, bahkan di dalam kandungan. Seharusnya perhatian orangtua tentang seksualitas anaknya sudah diberikan sejak dini, tidak hanya setelah remaja.
  • Berikan lingkungan yang bersih dari unsur seksual yang bersifat merangsang dan merugikan remaja. Ini tidak mudah karena banyak faktor dan pihak terlibat.
  • Kegiatan positif perlu disediakan bagi remaja agar mereka terlibat aktif di dalamnya, sehingga tidak larut dalam rangsangan seksual yang merugikan.
  • Semua pihak yang terlibat dalam penanganan masalah seksual remaja hendaknya meningkatkan tanggung jawabnya, sehingga usaha yang dilakukan tidak malah mendorong remaja untuk makin berani tenggelam dalam aktivitas seksual yang tidak sehat, yang dapat menimbulkan dampak buruk lebih jauh.
  • Bagi remaja yang sudah terbiasa melakukan aktivitas seksual, usahakan agar menghentikan aktivitas yang membangkitkan dorongan seksual sehingga tidak berlanjut menjadi hubungan seksual.
  • Bagi remaja yang sudah terbiasa melakukan hubungan seksual, berupayalah untuk menghentikan. Kalau tidak mampu menghentikan, cegah agar tidak terjadi kehamilan dan tidak terjadi penularan Penyakit Menular Seksual (PMS).
  • Kalau timbul gangguan atau masalah seksual, yang menyangkut segi biologis, fisiologis, dan psikoseksual, segeralah berkonsultasi dengan tenaga ahli. (Prof. Wimpie memberikan cara sederhana untuk menyampaikan pendidikan seks kepada anak-anak).
  • Berbicaralah dengan cara yang wajar, seperti berbicara tentang hal yang lain.
  • Hindari gaya seperti mengajar di sekolah.
  • Pembicaraan hendaknya tidak hanya terbatas pada fakta biologis, melainkan juga tentang nilai, emosi, dan jiwa.
  • Jangan khawatir Anda telah menjawab terlalu banyak terhadap pertanyaan anak. Mereka akan selalu bertanya tentang apa yang mereka tidak mengerti.
  • Anak-anak usia prasekolah juga perlu tahu bagaimana melindungi diri dari penyimpangan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa. Ini berarti bahwa orangtua harus memberitahu anak bahwa mangatakan “tidak” kepada orang dewasa bukanlah sesuatu yang dilarang.
  • Jangan menunggu sampai anak mencapai usia belasan tahun untuk berbicara tentang masa pubertas. Mereka harus sudah mengetahui perubahan yang terjadi pada masa sebelumnya.
  • Berilah suasana dan kesempatan agar anak merasa bebas dan aman mengajukan pertanyaan tentang seksualitas.
  • Andaikata orangtua tidak dapat menjawab pertanyaan anak, jangan malu mengatakan “tidak tahu”. Kemudian mintalah bantuan atau penjelasan dari orang lain yang mengetahui.
  • Setelah berbicara atau menjawab pertanyaan anak, ujilah apakah jawaban itu memang telah dimengerti. Berilah kesempatan kepada anak untuk menanyakan lagi kalau kemudian muncul pertanyaan baru.

Kehidupan seksual orangtua sangat diperlukan sebagai contoh nyata bagi anak ketika berbicara tentang seksualitas.

Ditulis oleh: Diana Yunita Sari

Sumber : Health.Kompas.Com

One response to “Beberapa Hal Penting tentang Pendidikan Seks untuk Anak

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s