Perjalanan Menemukan Jatidiri; Menelaah Syair Sufistik Hamzah Fanshuri

Perjalanan mencari dan mewujudkan jatidiri sebenarnya adalah perjalanan keruhanian, masuk dan menyelami rahasia al-haqiqat al-muhammad, Hakikat Muhammad. Rahasia ini hanya dapat terungkap kalau orang mempunyai ma’rifat. Hamzah Fansuri mengutip sebuah hadis:

al-ma’rifatu sirri (“Ma’rifat itu rahasiaku [Nabi].”)

Namun, Hamzah juga menegaskan bahwa ma’rifat itu tak lain adalah ma’rifat Allah. Tulisnya:

Adapun ma’rifat Allah terlalu mushkil.
Jika tiada guru yang sempurna dan murid yang bijaksana,
tiada terbicarakan, karena ma’rifat Allah rahasia Nabi.

Dalam kitabnya, “Sharabu al-Ashiqin”, Hamzah Fansuri menguraikan secara sistematis perjalanan dan tingkat-tingkat pencapaian perwujudan diri, mulai dari tahap syari’at naik ke tingkat thariqat, lalu semakin tinggi sampai di tingkat haqiqat dan pada akhirnya mencapai tingkat ma’rifat. Perjalanan mencari dan menemukan jatidiri adalah pejalanan masuk ke dalam dunia batin, ke dasar dan pusat kehidupan manusia. Perjalanan ini adalah juga sebuah proses panjang untuk menyingkap rahasia nafs [diri].

Syari’at

Hamzah Fansuri menulis:

Ketahuilah yang dinamakan syari’at itu sabda Nabi
menyuruhlah kita berbuat baik, melarangkan kita berbuat jahat.

Menurut Hamzah, syari’at itu berasal dari Allah yang disampaikan kepada Nabi, yang adalah insan kamil. Apa yang dikatakan Nabi Muhammad bukanlah kehendak hatinya sendiri, melainkan diturunkan oleh Allah kepadanya.

Menurut Hamzah, melaksanakan syari’at bukan sekadar pelaksanaan formal-legalistik dari Rukun Islam, melainkan meliputi keseluruhan perilaku. Syari’at haruslah merupakan pengejawantahan yang utuh dan menyeluruh dari perintah amar ma’ruf nahi munkar. Perintah agama haruslah tertuju kepada hati manusia, sebab hati adalah pusat kehidupan. Jadi syari’at tidak boleh dipahami dan dilakukan secara legal-formalistik belaka.

Memahami bahwa syari’at terutama tertuju kepada hati akan mencegah manusia dari kemunafikan. Itu berarti bahwa setiap langkah dan penuaian ibadah kepada Tuhan senantiasa mengandung makna spiritual yang dalam. Shalat, umpamanya, bukanlah hanya sekadar kata-kata yang diucapkan dan gerakan-gerakan tubuh, melainkan sebuah percakapan ruhani dengan Tuhan. Tulis Hamzah:

Shalat itu terlalu kamal [mulia] di dalamnya liqa lagi dan wisal
apabila lenyaplah daripada waham dan khayal
engkaulah sultan tidak bermisal

Bagi Hamzah, syari’at tidaklah berdiri sendiri. Artinya, bahwa syari’at sebagai tahap awal di jalan menuju perwujudan diri tidaklah berakhir setelah seseorang masuk ke tahap thariqat. Dalam kitab di atas ia menulis:

Barangsiapa tiada menurut fi’ilnya [Muhammad] itu,
ia naqis [kekurangan] hukumnya dan sesat hukumnya,
karena syari’at, thariqat, dan haqiqat pakaian Nabi.
Apabila kita tinggalkan satu dari tiga, naqis hukumnya.
Jika haqiqat tiada dengan syari’at, binasa hukumnya.

Thariqat

Tahap thariqat dalam perjalanan keruhanian adalah tahap yang paling sulit. Kalau syari’at adalah jalan raya, maka thariqat adalah jalan sempit, atau anak jalan dari jalan raya. Pada tahap ini, seorang penempuh jalan ruhani harus melakukan latihan-latihan spiritual yang keras dengan disiplin yang tinggi. Orang harus hidup seperti seorang pengelana yang tidak mempunyai dan tidak membawa apa-apa. Selain itu ada banyak bentuk ibadah yang harus dilakukan seperti dzikir, bertasbih, berpuasa, membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Orang harus mengurangi makan, minum dan tidur, mengurangi pergaulan dengan dunia ramai.

Haqiqat

Di ujung jalan thariqat orang akan masuk ke tahap haqiqat. Ini adalah suatu tahap di mana rahasia kebenaran ilahi dibukakan bagi seorang pengembara keruhanian. Hamzah Fansuri menulis:

Ketahuilah bahwa jalan haqiqat itu jalan Muhammad Rasulullah
kesudah-sudahan jalannya. Seperti hadits:
al-syari’atu aqwali [syari’at itu perintahku]
al-thariqatu af’ali [thariqat itu perbuatanku]
wa’l-haqiqatu ahwali [haqiqat itu keadaanku]
Ketiganya itu dipakai Nabi.
Barangsiapa memakai ketiganya itu kamil mukammal namanya.

Tahap haqiqat adalah tahap di mana seseorang sudah sampai pada tahap tertinggi dari pengembaraan keruhaniannya, serta mencapai kesadaran terdalam akan kenyataan dirinya. Pada tahap ini seseorang telah sampai pada tahap di mana ia telah mampu melepaskan segala libatan dan ikatan nafsu duniawi yang membelenggu kemanusiaannya.

Dalam kitabnya di atas, Hamzah Fansuri menyatakan, bahwa seorang ahlu’l-haqiqat adalah mereka yang, walaupun mempunyai anak istri, rumah dan segala sesuatu, tetapi hatinya tidak lagi melekat ke situ; ia adalah seseorang yang tidak tergoda walaupun kerajaan Sulaiman ditawarkan kepadanya.

Baginya, kaya atau miskin, sakit atau sehat, hina atau mulia, tak ada bedanya. Di kedalaman batinnya ia menjumpai keesaan wujudnya dengan Tuhan. Lalu ketika ia memandang segala sesuatu yang ada di luar dirinya, ia menjumpai keesaan wujudnya dengan alam semesta. Ia menyadari sekarang, bahwa keesaan dirinya dengan wujud Tuhan membuka kenyataan akan keesaan dirinya dengan alam semesta. Hamzah menulis:

Seperkara lagi, tatkala ia memandang di luar dirinya,
barang dilihatnya dirinya juga dilihatnya;
barang dipandangnya dirinya dipandangnya,
karena kepada ahlu’l-haqiqat alam dengan dirinya esa juga,
tiada dua-tiga.
Apabila alam sekalian dengan dirinya, niscaya barang dilihatnya
dirinya juga dilihatnya.
Seperti sabda Rasulullah: ra’aytu raabby bi ainy rabby
yakni “Kulihat Tuhanku dengan mata Tuhanku.”

Kesadaran bahwa diri, alam semesta dan Tuhan mempunyai kesatuan wujud bagi Hamzah Fansuri membuka kenyataan lain, yaitu bahwa semua manusia sebenarnya bersaudara, apakah Islam atau kafir, kekasih atau musuh. Ia juga membuka kenyataan menyangkut hubungan antara manusia dan alam semesta. Hamzah menulis:

Karena itu maka kata ahlu’l-haqiqat, sekalian makhluk diri kita juga,
sekalian manusia saudara kita, Islam dan kafir, kekasih dan seteru,
bisa dan tawar, surga dan neraka, murka dan ampun, baik dan jahat,
kaya dan miskin, puji dan cela, kenyang dan lapar, kecil dan besar,
mati dan hidup, sakit dan nyaman, benar dan salah –
sekalian sama padanya.

Keesaan wujud diri dengan Tuhan hendak menegaskan bahwa pada dasarnya manusia tidak bisa dipisahkan dari Tuhan, sesamanya manusia dan alam semesta. Ketika manusia terpisah dari Tuhan, sesama manusia dan alam semesta, maka di situlah manusia mengalami keterasingan. Ia asing dengan dirinya, sesamanya dan alam semesta. Pada saat seperti itulah watak merusak dari nafsu duniawi menguasai hidup manusia dan menentukan jalannya sendiri. Ini berarti manusia tidak lagi hidup dalam ketundukan dan kepatuhan kepada Tuhan, melainkan kepada sesuatu selain Dia. Di sinilah terjadi syirk dalam arti sebenarnya.

Buah syirk adalah rusaknya hubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya, yang ditandai oleh pelecehan, penghinaan bahkan perampasan hak-hak asasi manusia. Kemudian rusaknya pula hubungan antara manusia dengan alam semesta, yang ditandai oleh eksploitasi terhadap alam tanpa kenal batas serta sikap yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan.

Di sini dijumpai pula makna agama dan beragama yang sebenarnya. Panggilan beragama ialah menyatakan, dalam kehidupan sehari-hari, keprihatinan Allah terhadap nasib umat manusia dengan memanggilnya agar manusia kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah berarti kembali kepada jatidiri, menyadari sedalam-dalamnya dan sepenuh-penuhnya akan keesaan wujudnya [nafs] dengan Sang Khaliknya [rabb]. Di sinilah pentingnya ma’rifat untuk membuka dan menuntun ke arah perwujudan diri. Hamzah Fansuri mengatakan, “tiada sah sembahyang kecuali dengan ma’rifat.”

Ma’rifat

Kenyataan bahwa manusia sewujud dengan Tuhan sebenarnya bukanlah sebuah karunia atau pemberian Allah, melainkan ia “melekat” pada manusia itu sendiri. Pengetahuan yang membuka kesadaran itulah yang secara teknis disebut ma’rifat. Ma’rifat adalah pengetahuan mengenai rahasia keesaan wujud antara diri (nafs) dengan Tuhan (rabb). Pengetahuan ini diperoleh bukan dengan akal budi, melainkan melalui latihan-latihan keruhanisan yang tekun dan disiplin yang keras, seperti yang telah dipaparkan dalam tahap-tahap syari’at, thariqat, dan haqiqat. Dalam ma’rifat dijumpai bahwa terdapat kesatuan antara ‘yang mengetahui’ dan ‘yang diketahui’. Ma’rifat-lah yang membuka kenyataan mengenai asal dan tujuan hidup manusia.

Bahwa ma’rifat dipandang sebagai pengetahuan tertinggi dalam mistisisme tidak berarti bahwa itu harus bertentangan atau menolak pengetahuan berdasarkan akal atau ilmu. Imam Al-Ghazali sendiri, walaupun menempatkan ma’rifat sebagai pengetahuan tertinggi oleh karena hal itu akan membuka rahasia-rahasia yang tidak dapat ditangkap akal, tidak pernah menolak peranan dan pentingnya akal.

Hamzah Fansuri menyatakan, karena ma’rifat itu rahasia Nabi, maka mencapai ma’rifat berarti berhasil menyelami rahasia Muhammad sebagai insan kamil, lalu kemudian hidup berdasarkan pengetahuan itu. Itulah sebabnya Al-Ghazali menyatakan, ma’rifat itu sebenarnya adalah tingkat kenabian. Pencapaian ma’rifat akan menuntun orang untuk masuk ke dalam rahasia kenabian dan hidup dalam “alam kenabian” itu dan menjadi “seperti” Muhammad Sang Manusia Idaman. Menjadi seperti Muhammad tidak berarti bahwa setiap orang menjadi Nabi Muhammad, melainkan ia harus menyampaikan suara kenabian –seperti halnya Muhammad sendiri– dalam kehidupannya.

Panggilan bagi setiap penempuh jalan kenabian, atau panggilan mistis bagi kaum mu’minin sebenarnya adalah panggilan yang sangat hakiki, yaitu panggilan untuk hidup beragama secara benar dan manusiawi. Panggilan mistis bukanlah panggilan untuk menajiskan dunia lalu hidup dalam pengasingan. Sebaliknya, panggilan mistis adalah panggilan untuk membarui dunia dalam arti memulihkan kehidupan sebagai pengejawantahan hakikat kesewujudan dengan Tuhan. Inilah tujuan hidup manusia dalam dunia ini. Ini semua menyanggah dan membatalkan tuduhan bahwa tasawuf atau mistisisme Islam mengajarkan sikap yang anti syari’at atau, paling tidak, mengajarkan sikap yang acuh tak acuh terhadapnya.

***

Mistisisme [Islam] tidak bicara soal keselamatan dan bagaimana memperoleh keselamatan [bagi diri sendiri], melainkan berbicara tentang bagaimana kehidupan manusia berkenan pada Allah. Allah adalah Sang Kekasih dan panggilan dalam kehidupan ini ialah bagaimana memperoleh setetes cinta dari Sang Kekasih. Seorang tokoh Sufi wanita terkenal, Rabi’ah Al-Adawiyah (wafat 801 M), dikutip Annemarie Schimmel:

Aku akan melemparkan api ke surge
dan mengguyurkan air ke neraka
agar kedua penghalang itu lenyap;
siapa yang memuja Tuhan karena cinta,
dan bukan karena takut akan api neraka,
atau harapkan kenikmatan surga.

Motivasi beragama yang hanya hendak memperoleh surga atau takut akan hukuman di neraka, bagi para penempuh jalan mistis hanyalah rintangan bagi perwujudan cinta Sang Kekasih. Kalau mengasihi Allah hanya agar mendapatkan pahala surgawi dan dijauhkan dari laknat neraka, bagi para sufi hanyalah kemunafikan dan itu bukanlah cinta sejati.

Harapan memperoleh tetesan cinta Sang Kekasih mengandung makna bahwa hidup ini hanyalah bagi Sang Kekasih, dan melakukan apa saja bagi Sang Kekasih sebagai tanda cinta. Lalu, mengasihi Allah berarti mengasihi segala sesuatu yang dikasihi Allah, yakni seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Persoalannya, bagaimanakah orang bisa mengetahui rahasia Cinta Ilahi kalau orang tidak masuk ke dalam Cinta Ilahi itu sendiri? (*)

__________________

(Dari: Darius Dubut, ” ‘Passing Over’ Seorang Kristen ke Dalam Tradisi Mistik Islam”, dalam Komaruddin Hidayat, Ahmad Gaus AF (eds.), “Passing Over: Melintasi Batas Agama”, dengan pengantar Dr Nurcholish Madjid.)

Sumber : Milis Spiritual -Group Yahoo!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s