Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik di Bulan Ramadhan

Ketika berpuasa, sejatinya kita diajarkan tentang arti penting kedekatan sebuah hati dengan yang Maha menciptakan.

Ketika kita berpuasa berarti kita membuka ruang yang luas untuk mengistirahatkan pikiran dan menghentikan amarah yang senantiasa menguasai hari- hari kita. Begitulah, karena manusia seringkali terbentur dengan banyak kepentingan dan urusan, dan tak jarang, hal itu yang kemudian membuka jalannya kepenatan dalam jiwa mereka.

Subhanallah..

Memanglah benar jika bulan Ramadhan telah memberi kita banyak hal. Bulan Ramadhan mengakrabkan kita dengan rahmat Allah SWT yang bernama perenungan. Di dunia ini, pasti kita semua memiliki salah dan pernah lupa. Namun sekali lagi, bagaimanapun buruknya kita dimasa lalu, namun masa depan kita masihlah suci. Bulan Ramadhan menggembleng kita agar larut dalam perbaikan diri sehingga kita pantas untuk dibanggakan paling tidak oleh diri kita sendiri, tentang kualitas kita dimasa depan kita.

Bulan Ramadhan juga mengakrabkan kembali kita bersama keluarga. Apalah artinya jika kita bisa tampil sempurna di hadapan orang lain, namun ketika di depan orang- orang yang menyayangi kita, kesempurnaan itu telah habis dan yang tersisa adalah seribu satu kekurangan yang kita minta mereka untuk memakluminya?.

Bulan ramadhan juga adalah penenang jiwa bagi mereka yang senantiasa terburu- buru dalam urusan dunia, limbung dalam menapaki hari- hari yang tanpa tujuan, dan telah lelah dengan tujuan yang masih seberapa jauh dari harapan.

Bulan ramadhan adalah ibarat hadiah bagi seluruh alam. Sungguh berat rasanya jika tiada karunia bulan mulia ini untuk kita para manusia. Betapa tidak, dalam beratnya sebuah kesabaran, namun Ramadhan “memaksakan” jiwa yang bergejolak itu untuk tetap tangguh dalam mengunci mulut dari kata- kata sampah, tetap tersenyum dalam seburuk- buruk hati yang tengah di kuasai oleh kemarahan, dan tetap tenang dalam sebuah gejolak yang mengombang- ambingkan pikiran dan perasaan.

Mungkin tidak kita dapati kesemua ini dalam hari- hari biasa. Kita yang terbiasa memanjakan jiwa dengan mengumbar apapun mau mereka, memang seolah merasa sangat terkungkung dan terpenjara, namun sebuah pelatihan pastilah akan mendatangkan hasil bagi yang bersungguh- sungguh melakukan dan memaknainya. Dan begitulah yang kita rasakan dalam bulan ramadhan ini.

Bulan ramadhan, bukanlah hanya tentang kualitas jiwa dan iman, namun menuntut bukti nyata lahirnya manusia baru yang penuh dengan kebaikan dan menyebarkan perbaikan, setelahnya.

Seandainya saja semua hari adalah Ramadhan, mungkin akan mudah bagi kita untuk mengenai diri kita sendiri. Karena disana tidaklah hanya sekedar ada puasa dimana kita menahan haus dan lapar. Namun disana ada cermin yang diberikan Allah untuk kita, untuk mengenali diri kita, tentang baik buruknya kita.

Dan semoga semua tidak hanya terhenti atas nama teori, namun dapat merasuki jiwa- jiwa kita yang memang sedang gundah mencari sebuah pegangan. Lalu kenapa tidak kita berikan jeda sebentar bagi hati yang lelah itu untuk berakrab dengan tuhannya? sebegitu sibukkah kita, sampai- sampai tiada waktu lagi untuk bertemu, bercurah dan berkeluh kesah kepada yang maha menyelesaikan masalah kita?.

Semoga kita bisa lebih bijak memaknai dan dalam menghabiskan setiap detik waktu kita selama kita di bulan Ramadhan ini. Dan semoga kita menjadi manusia yang lebih  baik, setelah menjadi alumni Ramadhan esok. Karena siapa yang dapat menjamin jika kita kelak masih akan bertemu dengan kesempatan yang sama di bulan ramadhan ini? Wallahu’alam.

(Syahidah/voa-islam.com)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s