Kecerdasan Bukan Berarti Nilai Bagus

Suatu ketika ada seseorang yang bertanya tentang si  A yang bersekolah di PELITA HATI,” Gimana kabarnya si A ? si A anaknya pintar lho, nilainya bagus – bagus dan sering dapat ranking 3 besar. Di sekolah ini dapat ranking berapa ?”. Yang ditanyapun menjawab bahwa si A memang anak “Pintar” dan semua anak di sekolah ini adalah anak yang “Pintar/Cerdas”, mengenai ranking bahwa tidak adakata Ranking dalam kamus di sekolah ini.

Cerita ini menunjukkan bahwa kebanyakan dari kita masih berpendapat bahwa anak yang pintar atau cerdas adalah mereka yang menduduki peringkat 1 – 5 dalam kelasnya, dan anak – anak yang rangkingnya lebih dari itu dianggap anak yang pas – pasan bahkan bisa jadi bodoh. Kalau sudah begitu maka orang tuanya yang kebingungan. Solusi yang diambil oleh para orang tua diantaranya dengan meminta anak belajar lebih rajin., ikut bimbingan belajar atau les privat. Atau bahkan ada orang tua yang acuh tak acuh, yang penting anaknya mau sekolah.

Redifinisi Kecerdasan, sebuah awal yang Manusiawi

Setiap kali kita diminta siapa yang lebih cerdas: Bill Gates, J.K rowling, Oprah Winfrey atau almarhum Munir, S.H ? atau siapa yang paling cerdas dari tokoh – tokoh atau ilmuwan – ilmuwan terkenal ? Banyak yang kebingungan menjawabnya. Kecerdasan manusia dan kebutuhan untuk mengukurnya dengan berbagai instrument dan indicator tiba – tiba menjadi hal yang penting, terutama ketika kecerdasan dihubungkan dengan syarat – syarat untuk mencapai kesuksesan hidup.

Mengapa harus dimulai dengan makna kecerdasan? Pemahaman makna kecerdasan merupakan awal dari penerapan banyak hal yang terkait dalam diri manusia, terutama dalam dunia pendidikan. Pembicaraan mengenai makna kecerdasan sangatlah luas.

Teori kecerdasan mengalami puncak perubahan paradigma pada tahun 1983 saat Dr. Howard Gardner, pimpinan Project Zero Harvard University mengumumkan perubahan makna kecerdasan dari pemahaman sebelumnya. Teori Multiple Intellgences yang maju mulai menyita perhatian masyarakat. Mengapa ?

Setidaknya ada tiga paradigma mendasar yang diubah Gardner.

1. Kecerdasan tidak dibatasi  tes formal.

Seorang bocah dengan tangan gemetar memberikan secrik kertas hasil ulangan matematiaknya. Kertas itu adalah hasil ulangan harian matematikanya. “Ma. Reza dapat 4, ga pa pa ya ma, habis soalnya sulit.” Dengan terbata – bata sang anak melaporkan hasil ulangannya. Dapat dipastikan, yang terjadi berikutnya adalah tarikan dalam sang Ibu yang kemudian ditumpahkan menjadi “marah besar” kepada si kecil.

“ Mana bisa kau nanti jadi orang, mana mungkin kau nanti jadi dokter, mana mungkin kau menyenangkan hati ibumu…..kalau ulangan matematika aja cuma dapat 4. Nilai apaan itu ? Emangnya kamu tidur saat gurumu mengajar ?” Reza hanya merespon dengan tatapan kosong.

Namun, siapa yang tahu jika dua puluh tahun kemudian Reza menjadi seorang dokter yang berhasil. Apabila mengingat masa lalunya yang sering mendapat nilai 4 dalam ulangan matematikanya, dengan tersenyum sang dokter berkata.”Ternyata betul, tidak ada hubungannya nilai 4 matematiku dulu dengan profesi dan keberhasilanku sekarang.”

Kecerdasan yang tidak mungkin dibatasi oleh indicator – indikator yang ada dalam achievement test ( tes formal ). Sebab setelah diteliti, ternyata kecerdasan seseorang itu selalu berkembang ( dinamis ), tidak statis. Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan seseorang, praktis hanya menilai kecerdasan pada saat itu, tidak untuk satu bulan lagi, apalagi sepuluh tahun algi. Menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang. Sumber kecerdasan seseorang adalah kebiasaannya untuk membuat produk – produk baru yang punya nilai budaya ( kreativitas ) dan kebiasaannya menyelesaikan masalah secara mandiri.

2. Kecerdasan itu multidimensi.

Siska, seorang ibu, merasa hatinya hancur melihat anaknya, Andi, tidak berhasil meraih juara, bahkan juara harapun tidak, dalam omba pidato di sekolahnya. Begitu Andi turun dari panggung, si Ibu sudah menyiapkan kursus pidato dengan deritan jadwal yang ketat. Ketika jadwal itu diberikan, Andi menangis dan tidak mau menerimanya. “Andi capek Ma…. Andi nggak akan pernah menang pidato sebab Andi nggak suka. Tolong Mama jangan paksa”rengek Andi.

Dua puluh tahun kemudian, sang ibu tersenyum gembira dan meras bersyukur atas kejadian masa lalunya. Dia tidak memaksa Agung untuk kursus pidato sebab sekarang andi menjadi seorang arsitek yang sukses.

Kecerdasan seseorang dapat diihat dari banyak dimensi, tidak hanya kecerdasan verbal ( berbahasa ) atau kecerdasan logika. Gardner dengan cerdas memberi label “Multiple” ( jamak atau majemuk ) pada makna kecerdasan. Ada 8 macam kecerdasan yaitu cerdas linguistic ( bahasa ), cerdas matematis – logis, cerdas visual – spasial, cerdas musical, cerdas kinestetis, cerdas interpersonal ( bergaul dengan orang  lain ), cerdas intrapersonal (kemampuan mengenal diri , dan cerdas naturalis.

3. Kecerdasan, proses Discovering Ability

Albert Hasibuan, S.H, seorang pengacara terkenal, harus berpikir keras ketika putra tunggalnya, Ryan Hasibuan, memutuskan untuk memilih kuliah di program studi music. “Ayah tetap berharap kau masuk fakulatas hukum, seperti Ayah. Percayalah, ayah akan bantu semaksimal mungkin,” kata Albert penuh harap.

“Tapi Yah, aku gak suka dunia hukum, aku gak tertarik, aku sekarang senang dengan music. Aku merasa enjoy kalau setelah SMA aku bisa kuliah di bidang music.” Begitulah Rayn mempertahankan keinginannya. Syukurlah ayahnya menyetujui keinginan sang anak setelah berdebat dan menimbangnya dengan seksama.

Lima tahun kemudian, Albert Hasibuan, S.H., sangat bersemangat ketika menjadi pengacara untuk  kasus yang cukup besar, yaitu pembajakan sebuah lagu Indonesia yang terkenal oleh penyanyi asing. Lagu laris yang dibajak itu diciptakan oleh Ryan Hasibuan, sang anak yang dahulu pernah dipaksa untuk menjadi pengacara oleh Albert.

Mulitiple Intellgences punya metode discovering ability, artinya proses menemukan kemampuan seseorang. Metode ini meyakini bahwa setiap orang pasti memiliki kecenderungan jenis kecerdasan tertentu. Kecenderungan tersebut harus ditemukan melalui pencarian kecerdasan.

Jika yang ditemukan adalah kelemahan dalam satu jenis kecerdasan, keemahan itu harus dimasukkan kelaci dan dikunci rapat – rapat. Multiple Intellegences menyarankan kepada kita untuk mempromosikan kemampuan atau keebihan seorang anak dan mengubur kelemahan atau ketidakmampuan anak. Proses inilah yng menjadi sumber kecerdasan seorang anak.

Tentu dalam menemukan kecerdasannya, seorang anak harus dibantu oleh lingkungannya, baik itu orang tua, guru, sekolah, maupun sistem pendidikan yang diimplementsikan di suatu negara. Betapa banyak contoh tokoh – tokoh yang cerdas, terkenal, dan bermanfaat bagi masyarakatnya ternyata banyak memiliki kelemahan.

“Anak bukanlah diri kita, dia orang lain. Jangan paksa anak untuk menjadi diri kita” (Khalil Gibran)

_____________

Ahmad Sriyanto
GERBANGINTERVIEW.COM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s