Barat-Timur, Utara-Selatan

Masad Masrur

Ketika saya masih belajar di Sekolah Madrasah, waktu SD dulu, Pak Komari, ustadz saya, mengatakan bahwa kemanapun kamu memalingkan wajah, disitulah kau temui wajah Allah.

Saya sendiri lupa, ia sedang menjelaskan apa. Tetapi, menjelang tulisan ini saya bikin, dan setelah mengklik sana-sini, rupanya Pak Komari sedang menjelaskan QS. Al Baqarah, 2:115. Intinya adalah Fa ainamaa tuwalluu fa tsamma wajhullaahi” yang artinya: maka kemana saja kamu menghadap di situlah wajah Allah. Allah mepunyai kekuasaan atas apa yang diciptakanNya, jadi mustahil tidak mengetahui apapun yang Ia ciptakan. Allah Mahaluas kekuasaan-Nya karena Dia bukan hanya menguasai Timur dan Barat, tapi seluruh alam semesta dengan segala isinya adalah milikNya. Karena Dia Maha luas kekuasaannya, jangan dibayangkan Allah lantas sibuk mengurus makhluknya. Tidak ada sulitnya bagi Allah untuk mencupta, yang tidak bedanya dengan Allah memberikan rezeki kepada semua makhluk-Nya.

Tetapi, makna Barat dan Timur yang berkembang dalam pengertian saat ini, bukan hanya sekedar menunjukkan arah dengan jari telunjuk. Tetapi Barat, merujuk kepada negara-negara yang berada di benua Eropa dan Amerika, termasuk Australia dan Selandia Baru, dimana mereka rata-rata berkulit putih dan bule. Dunia Barat dibedakan dari dunia Timur yang digunakan untuk merujuk kepada Asia. Negara-negara Arab, Israel dan Turki dikategorikan sebagai negara Timur Tengah atau kadangkala Timur Dekat. Sementara itu negara-negara Asia di sebelah timur India, disebut sebagai Timur Jauh.

Selain pengertian kewilayahan, Barat juga diartikan sebagai sekuler, liberal, modern, nasrani yang bertolak belakang dengan sifat-sifat Timur yang tradisional, konservatif, dan Islam. Secara sempit bahkan, orang sering menyebut Timur saat ini mewakili penyebutan masyarakat muslim yang relatif tertinggal.

Sesudah Uni Soviet jatuh, memang masih ada China yang mewakili istilah Timur. Tetapi muslim dan Islam lebih populer. Bukan hanya karena kemuslimannya, Timurpun seringkali ditulis dengan nada peyoratif, dimana masyarakatnya tertinggal, miskin, kuno, kemudian otoriter, tidak demokratis dan sebagainya. Istilah ini lantas diperlawankan dengan istilah Barat, dimana mereka akhirnya menjadi “musuh” sepanjang masa dan tidak akan pernah bertemu sampai kapanpun. Persaingan antara Timur dan Barat tidak pernah usai. Semenjak sebelum Perang Salib atau Perang Sabil terjadi, persaingan merekapun cukup “ketat”. Ini soal peradaban, dimana silihbergantinya penguasa zaman selalu dipergilirkan diantara mereka berdua. Maka tak aneh, ketika terjadi agresi militer, perlombaan senjata, ataupun invasi tentara dari satu negara ke negara lainnya, obyek penyertanya adalah Barat dan Timur. Iraq, Afganistan, dan kini Libya, mungkin sedang “mewakili” Timur, sebagaimana yang disampaikan Vladimir Putin yang menolak intervensi AS atas Libya akhir-akhir ini.

Meskipun rivalitas antara Timur dan Barat telah berlangsung lama dan seru. Istilah Utara dan Selatan akhirnya dimunculkan untuk mengganti wacana ini.

Utara untuk menyebut negara-negara ekonomi maju, menindas, dan pemberi hutang, sementara Selatan untuk menyebut negara-negara ekonomi lemah, tertindas, dan penghutang. Negara-negara maju di dunia ini mungkin memang lebih banyak di belahan utara kecuali Australia dan Selandia Baru, tetapi miskinnya negara-negara Selatan akhirnya juga mewakili istilah Timur yang memang kebanyakan dizalimi Utara. Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, termasuk Asia Tenggara sering disebut sebagai negara Selatan, yang terus-terusan berhutang dan mencoba lepas dari jeratan korporatisme dunia (Barat-Utara) tetapi tetap saja kesulitan. Mereka paling-paling hanya bisa mengecam, menolak, mengisolasi diri, tanpa bisa berkolaborasi dengan negara-negara sesama Selatan untuk maju bersama. Ahmadinejad, Hugo Chaves, Fidel Castro, pemimpin-pemimpin negara di Afrika, paling-paling hanya bisa mengecam AS, Italia, atau Inggris yang mengancam kepentingan negara-negara Selatan-Timur. Rasanya masih sulit Utara-Barat diimbangi Selatan-Timur meskipun istilah ini juga seringkali dianggap tidak relevan. Dan capek rasanya melihat persaingan, rebutan pengaruh, perlawanan dan hal-hal lain yang tidak konstruktif.

Justru yang penting, yang kiranya bisa selalu diingat, paling tidak untuk mengeliminasi persaingan antarperadaban ini, adalah Fa ainamaa tuwalluu fa tsamma wajhullaahi, yang tidak perlu mempertentangkan sesamanya, tetapi mengambil hikmah dari setiap perkembangan yang terjadi di setiap belahan dunia. Saya kira ini lebih afdol, sebab dengan demikian, konsentrasi dunia ini lebih pada menegakkan keadilan antarsesamanya. Bukankah kemana saja kamu menghadap di situlah wajah Allah? Wallahu’alam.* [Kompasiana]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s