Bukan Megawati, Tapi Firaun

by Emha Ainun Nadjib

Tiga hari sebelum berangkat ke Mesir ada delapan orang tamu mendatangi pos maiyah di Kasihan Bantul Jogja. Mereka bercerita panjang tentang perjalanan thariqat mereka, dan di ujungnya berkata tentang Firaun — padahal mereka tidak tahu bahwa kami akan berangkat ke kampungnya tokoh yang mereka sebut itu.

Seluruh pembicaraan mereka berpusat pada keprihatinan tentang keadaan sakit Indonesia yang tak kunjung sembuh. Dan puncak tema yang mereka tuturkan kepada saya sangat sederhana:

“Cak Nun lebih tahu dari kami, bahwa sesungguhnya dalam hal kedhaliman di negeri ini yang terpenting yang harus dilawan bukanlah Megawati atau tokoh dan kelompok penguasa yang manapun. Cak Nun tahu bahwa tokoh-tokoh itu hanyalah boneka, sedangkan penguasa yang sesungguhnya adalah Firaun. Cak Nun tahu bahwa kematian itu hanya sebuah pengertian, tetapi kenyataan kematian yang sebenarnya tidaklah seperti yang disangka oleh masyarakat modern sekuler”.

“Firaun masih terus mengumbar enerji negatifnya, sebagaimana Rasulullah SAW dan para Nabi dan Rasul yang lain juga terus hidup dan menghidupi jiwa perjuangan kita. Maka kami mohon hendaknya Cak Nun mulai mengurangi pelaksanaan tugas-tugas yang kecil-kecil, dan mulai membereskan yang besar. Hanya Cak Nun yang bisa mengalahkan Firaun, dan hanya itu satu-satunya jalan untuk mengembalikan Indonesia kepada kesehatan hidupnya….”

Anda tidak perlu berpikir untuk mengerti bahwa pasti saya kebingungan akan menjawab bagaimana. Anda pasti juga bertanya-tanya Firaun yang merajalela di Indonesia ini Firaun yang mana. Yang dari Dinasti Mina 15.000 tahun yll, ataukah Ramses bapak angkatnya Musa 3000 tahun yll, yang botak, berambut putih di bagian belakang, yang berhidung betet dan berbadan tinggi kekar, atau Cheup perintis pendirian piramid, atau putranya si Khafra yang memuncaki teknologi piramid? Yang mana yang rewel? Firaun yang berkulit putih, berkulit coklat ataukah yang berkulit hitam?

Tentu Anda juga berpikir kontekstual. Di samping de fakto enerji dan roh yang tamu-tamu itu maksudkan, tentu juga ada relasi terhadap segala potensi perilaku manusia yang bersifat firaunistik: segala gejala penuhanan diri, kekufuran, kemusyrikan, keangkuhan, politik takabur, industri api pelalap dan pemusnah kemanusiaan, teknologi informasi sihir…yang Musa diperintah oleh Allah untuk melawannya dengan Tongkat Tauhid….

Jadi saya menjawab sekenanya: “Ok-lah beberapa hari lagi insyaallah akan saya datangi Firaun, baik di lubuk kedalaman piramid maupun mumminya yang di museum”.

Kemudian di Mesir bahkan kami datangi juga Qorun yang ditenggelamkan oleh Allah harta kekayaannya. Bersama KiaiKanjeng kami melakukan perjalanan keliling Mesir membawa Tauhid, Kalimah Syahadat dan Shalawat kepada Nabi. Kami dengan semua yang mendengarkan menangis bersama-sama. Menangis, mencair, terkuak tabir, dipasar, dijalanan, didesa-desa, dipantai, didanau, digedung pertunjukan, dirumah-rumah, digurun pasir, di bangunan gua-gua pusat pertahanan militer Israel….

KyaiKanjeng

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s