Belajar di Balik Kejadian Tsunami Jepang

Jepang adalah negara indah, modern dan canggih. Namun negara ini labil dimana sering ditimpa gempa bumi yang berakibat tsunami. Tsunami yang terjadi kemarin (Jumat, 11/03/11) dipicu oleh gempa bumi 8.9 SR mengoyak Tenggara Jepang, efeknya Tokyo dan puluhan kota lainnya ikut kena dampaknya. Konon bahkan memiliki dampak sampai ke Rusia, lebih jauh lagi sampai ke Maluku, Irian Jaya di Indonesia bahkan sampai di Hawaii. Di Hawaii  pemerintahnya menghimbau warganya untuk bersiap-siap hengkang menjauh dari bibir pantai padahal itu nun jauh di Amerika.

Betapa dahsyatnya melihat rekaman yang ditayangkan oleh berbagai media elektronik di negara kita, 384 orang tewas, ribuan rumah hancur, mobil, kapal dan kereta terbawa hanyut. Melihat betapa dahsyatnya tsunami tersebut membuat saya cemas, tak terbayangkan saudara-saudara kita yang mengalami bencana itu sendiri.. mudah-mudahan bagi yang meninggal amalnya bisa diterima disisiNya Yang Maha Esa dan bagi korban yang luka bisa sembuh lahir dan bathin.

Menguak Tuhan Melalui Buih Ombak

Betul apa yang dikatakan Kitab Suci bahwa semua yang ada di alam ini bergerak walaupun itu hanya sekedar gunung. Gunung itu tidak hanya yang telihat di depan mata kita, tetapi ada juga yang tenggelam dikubur oleh laut. Jadi, tanah yang kita injak ini walaupun kelihatannya diam padahal terus bergerak. Di Jepang gempa sebenarnya cukup jauh yaitu 10 km di kedalaman laut.

Membaca ‘bahasa’ alam, kita akan ‘memahami’ kemana kita akan dibawa. “Semua yang berada di alam akan merasakan fana (musnah). Dan tetap kekallah Wajah Tuhanmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan” (Q.S. Ar Rahman 26-27).

Bahasa sebagai hasil pengalaman manusia tidak akan bisa menangkap ”Ketakterbatasan”, karena hal itu bertentangan dengan kodrat penalaran yang cenderung memahami sesuatu dengan cara mengurai dan memberi batasan. Sesuatu yang tak terungkap dan tak terbatas, pastilah tak teruraikan. Dan sesuatu yang tak teruraikan pada hakikatnya tidak mungkin dicerap oleh perangkat pengetahuan dan pengalaman manusia. Wujud Mutlak atau Sang Wujud berada di luar wilayah analisis dan definisi, observasi ataupun verifikasi.

“Ombak besar menghantam rumah penduduk di sekitar kota Sendai, Minasoma ratusan nyawa jatuh bergelimpangan”.

Diciptakan oleh Allah dan kembali kepada Allah. Beberapa buih tersisa dari baju basah yang mereka kenakan. Buih-buih mencoba mengungkap samudera yang membawanya bergerak ke arah daratan. Bisakah buih menjelaskan dan menguraikan samudera? Perangkat apa yang dimiliki buih untuk mengenal dan mencerap samudera? Bukankah buih itu akan segera kehilangan identitas pada saat mereka sadar bahwa dia itu hanyalah buih yang tak berarti dalam samudera yang tak bertepi. Bagaimana mungkin buih-buih itu akan mengungkap Samudera kalau mengungkap gelombang ombak saja tidak bisa? Bahasa buih hanya mampu mengungkap bahasa, persepsi dan definisi sesama buih saja.

“Tiap-tiap buih mengalami kehadiran samudera dalam keseluruhan dirinya secara langsung dan konstan, sehingga tak mungkin lagi menangkap gagasan tentang hakikat samudera dan pengalaman kebuihan yang amat terbatas”.Oleh sebab itu, cara paling mungkin untuk mengenal Sang Wujud Mutlak ialah meminta Dia memperkenalkan Diri Nya. Agama adalah ruang lingkup manusia untuk membahas Dzat Ilahiah. Dzat Wujud Mutlak memperkenalkan Dirinya dalam bahasa perumpamaan (mitsal) dan ayat atau tanda yang dikenal manusia. Hanya dengan cara demikian Sang Mutlak itu dapat kita kenali, kita seru dan kita ingat, kita hadirkan dalam kalbu kita dan kita sayangi.

“Buih dan ombak besar itu bergerak menyapu apa-apa yang ada dipantai. Ketika ombak itu bergerak kita mengetahui bahwa gerakan ombak itu adalah proses yang dilalui untuk menuju kesempurnaan ombak”.

Diantara warga ada seorang pemuda yang tengah berwisata di pantai Fukushima mengetahui adanya gelombang tsunami bergerak menuju daratan, dia segera menarik kekasihnya untuk segera menyelamatkan diri.

Kita menyadari bahwa kecintaan adalah sesuatau yang sempurna, dan dibalik kecintaan pasangan itu ada kecintaan yang lebih besar dan mutlak. Lalu kita mencari asal-usul sifat sempurna itu pada manusia. Pengetahuan semacam ini tidak mungkin ada bilamana Allah tidak “membeberkan” Diri Nya di alam ciptaanNya ini.

Walaupun demikian, ciptaan tidak akan pernah sepenuhnya memahami ke-Penciptaan dalam bahasa dan pengalaman yang tak terbatas, layaknya buih tak mampu mengungkapkan samudera yang luas.Realitas ke-samudera-an hanya bisa dipahami oleh buih dalam bahasa perumpamaan.

“Perumpamaannya seperti kelelawar hendak menatap matahari, yang ada hanya warna hitam kelam…maka semestinya buang nalar dan pegang teguh Realitas”.

Alam bermakna ilmu atau tanda (alamah). Apabila manusia mengamati tanda, maka bertambahlah ilmu pengetahuannya. Akan tetapi hakikat pengetahuan manusia itu sendiri hanyalah bias. Karena jenis dan sifat alam yang beragam itu maka lahirlah alam air, alam bawah tanah, alam binatang , alam manusia dan alam lainnya, sedemikian banyak alam (plural) maka dalam bahasa Arab disebut Alamin. Tak mampu kita menguak alam satu persatu mengingat kita sudah terperangkap oleh ruang dan waktu.

Membuka Tabir Keadilan Ilahi Melalui Tsunami

Membicarakan keadilan Tuhan, seperti membicarakan misteri, jangankan kita yang awam ini, para pemikirpun dibuat pusing tujuh keliling memikirkannya. Andaikan Tuhan itu adil, kenapa harus ada bencana dan kesusahan ditimpakan pada umatnya?

Resolusi pemikiran ini, apabila diteliti maka berdiri pada posisi non akademik. Kalau di dalam pemikiran akademik, maka Tuhan melakukan sesuatu hal dengan kriteria-kriteria tertentu. Seperti misalnya seorang direktur yang memutus hubungan kerja karyawannya seenaknya, direktur tidak bisa main pecat seenaknya, karena ada sistem dan prosedur yang mengaturnya. Apabila direktur tersebut melakukannya berarti telah ada kedzaliman direktur itu terhadap karyawannya. Tetapi Tuhan bukanlah direktur, hubungan manusia dengan Tuhannya bukan hubungan struktural, Tuhan memiliki standarNya sendiri, dan bekerja melalui standarNya, Tuhan memiliki standar untuk memberi bencana dan tidak memberi bencana. Keadilan yang kita pertanyakan, patut mengemuka apa bila ada hubungan struktural atau hubungan timbal balik. Jika ada musibah, Tuhan dipertanyakan keadilannya, tetapi Ke Maha BijaksanaanNya, tidak dipertanyakan, jadi semestinya pertanyaan kita ini yang semestinya dibenahi.

Prinsip kebijaksanaan Tuhan adalah Tuhan memberi rahmat. Jadi yang perlu kita urai adalah hikmah yang diberikan. Kemahabijaksanaan Tuhan, bahwa alam ini diciptakan agar sisi kebaikannya lebih dominan dibandingkan sisi keburukannya, alam diciptakan dengan masing-masing tempat memiliki ciri khas, ciri tersebut menyifati alam, tidak bisa dipisah-pisahkan. Contohnya fenomena alam, tumbuhan perlu cahaya untuk tumbuh, apabila pemberian cahaya dihentikan maka tumbuhan akan mati, tentunya selain cahaya ada beberpa zat lain yang diperlukannya, umpamanya oksigen. Pertumbuhan tumbuhan ini dialami juga oleh hewan maupun manusia. Dengan matinya tumbuhantidak berhenti disitu, karena ada yang menggantungkan kehidupannya yaitu hewan dan manusia. Ada siklus kehidupan di sana.

Fenomena alam ini dibuat untuk memudahkan kita berfikir, proses mahluk yang mati itu akan dimanfaatkan oleh yang lainnya. Kejadian di Jepang adalah gempa tektonik jauh dikedalaman 10 km yang berakibat gelombang pasang (tsunami). Efek yang ditimbulkan rumah-rumah di sekitar bibir pantai di Tenggara Tokyo runtuh disapu gelombang dengan tinggi empat meter, dan ratusan nyawa melayang.

Pilihan yang diberikan Tuhan memang sulit untuk dipikirkan, pertama atas meninggalnya ratusan manusia. Dan pilihan ke dua, adalah manusia lain yang menggantikannya. Artinya dari dua pilihan itu akan terjadi perubahan atau regenerasi di suatu wilayah tertentu.

Ada contoh studi kasus, yang mudah diikuti, ada seorang karyawan pabrik yang tangannya terputus karena kesalahan prosedur sehingga mengakibatkan kecelakaan, apakah bijaksana kalau perusahaan tersebut kita tutup, padahal perusahaan itu tempat menambatkan hidup ribuan karyawannya ?

Nah, maknanya dengan adanya musibah itu tidak ada hubungannya dengan Kebijaksanaan Tuhan, karena dibaliknya ada manfaat yang lebih besar, Tuhan Yang Maha Bijaksana memberikan hikmah dan berkat dibalik kejadiannya. Kejadian tsunami di Jepang mengajak kita berfikir sesuatu di balik suatu kejadian… sudah siapkah kita ”mempelajarinya”?

Salam,

Ferry Djajaprana
(Candidat  Magister Islamic Mysticism at The Islamic College Jakarta – Paramadina University).

Sumber : Bayt al-Hikmah Institute

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s