Mati otak

Sejak berabad-abad, kematian didefinisikan sebagai berhentinya fungsi pernafasan dan detak jantung. Namun ketika memasuki era kedokteran gawat darurat, kematian didefinisikan lain. Berhentinya fungsi otak sudah didefinisikan sebagai kematian.

Akan tetapi tentu saja vonis kematian seseorang tidak segampang itu dijatuhkan. Para dokter harus memeriksa secara klinis, berbagai refleks dan fungsi tubuh lainnya. Jika misalnya refleks pupil mata, refleks tekak serta refleks pernafasan sudah tidak ada, maka secara klinis orang disebut mati.

Membicarakan kematian memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Namun di zaman modern ini, seringkali kematian seseorang juga berarti kehidupan bagi orang lainnya. Paradoks memang. Namun dewasa ini teknik cangkok organ tubuh sudah amat maju. Sementara penderita yang menunggu donor organ tubuh juga antri.

Jika seseorang dinyatakan mati klinis, dalam arti fungsi otaknya sudah mati, secara medis organ tubuhnya dapat diambil untuk dicangkokan. Tentu saja harus seizin keluarganya. Disinilah muncul kontroversi antara kalangan medis dengan kalangan agama dan hukum.

Contoh kasus misalnya seorang pemuda yang ketika berolahraga jogging, mengalami kecelakaan. Para dokter gawat darurat yang menolongnya menyatakan fungsi otaknya telah mati. Keluarganya tentu tidak begitu saja menerima vonis kematian secara medis itu. Sebab pemuda tsb tergolong amat sehat, gemar olahraga dan tidak memiliki riwayat penyakit gawat. Juga dengan alat-alat modern, detak jantung dan pernafasan secara buatan dapat dipertahankan. Ketika tim dokter menyatakan, otaknya telah mati, berarti semua peralatan penunjang kehidupan boleh dicabut. Disinilah konflik mulai muncul. Sebab secara medis, dokterlah yang berhak menegakkan diagnosa. Sementara secara hukum atau agama, kewenangannya berbeda.

Memang hukum di sejumlah negara maju, sudah mengakui mati otak sebagai legalitas kematian. Namun disamping aspek medis dan legal, keberatan dari tokoh agama juga harus diperhatikan. Dipandang dari aspek medis, manusia yang fungsi otaknya mati, berarti secara klinis dia juga sudah mati. Sebab semua fungsi organ tubuh diatur oleh sistem saraf sentral yang bermuara di otak besar dan otak kecil. Bagaimana fungsi detak jantung dan pernafasan dapat berfungsi, jika pusat pengendalinya sudah mati ? Jika peralatan pembantu kehidupan dicabut, dalam waktu singkat jantung akan berhenti berdetak dan pernafasan juga berhenti.

Di Amerika Serikat diagnosa mengenai mati otak, harus ditegakan oleh dua orang dokter. Mati otak berarti juga kematian seluruh tubuh. Sebab berbeda dengan organ tubuh lainnya, yang bisa pulih kembali jika mengalami kerusakan, otak tidak memiliki kemampuan regenerasi. Artinya sel otak yang mati akan mati pula secara permanen. Sementara jantung memiliki pusat penggerak saraf sendiri. Artinya jika disambung ke alat pemacu detak jantung, selama otot masih memiliki cukup oksigen darah masih mengalir. Dan jantung akan tetap berdetak. Jika mesin dimatikan, jantung akan langsung berhenti dan mati.

Dalam kedokteran cangkok organ tubuh, kondisi dimana otak mati namun jantung masih berdenyut karena ditunjang alat bantu, adalah kondisi ideal untuk pengangkatan organ tubuh. Sebab jaringan organ tubuh masih hidup dan harus segera dicangkokan. Jika jantung sudah berhenti berdenyut, jaringannya dengan cepat mati. Organ mati tidak dapat dicangkokan.

Memang prosedur pengangkatan organ tubuh untuk dicangkokan berbeda-beda di berbagai negara. Di Jerman terdapat kesepakatan tidak tertulis, untuk memberikan obat penghilang rasa sakit pada orang yang mati otak yang diambil organ tubuhnya. Tujuannya untuk menekan reaksi refleks dari organ yang diangkat, demikian dr. Dieter Mauer, ketua harian yayasan Jerman untuk cangkok organ tubuh-DSO.

Disebutkannya, pada saat dokter memotong organ tubuh untuk dicangkokan, seringkali terjadi peningkatan tekanan darah dan perubahan denyut jantung. Seolah-olah orang yang mati otak masih bisa merasakan sakit. Hal itu sering membuat para perawat yang mendampingi dokter terkejut atau merasa terganggu. Itulah sebabnya sebelum diangkat organ tubuhnya, para ahli anestesi memberikan obat penghilang sakit dalam dosis tertentu. Memang dalam kedokteran cangkok organ tubuh masih terdapat berbagai pertanyaan yang harus dijawab, baik secara hukum maupun dari sudut agama.(muj)

Sumber : Jurnal Iptek

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s