Cerita Anak Cerdas (Bagian 1)

ANWAR DAN SANG BURUNG KECIL

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu. (QS. al-Mulk, 67:19).

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (QS. an-Nahl, 16:79)

Ketika Anwar sedang berjalan pulang dari sekolah, hujan mulai turun sangat lebat. Setelah makan malam, sebelum memulai pekerjaan rumahnya, dia bertanya kepada ibunya apakah dia boleh melihat hujan dulu sebentar. Ibu bilang bahwa Anwar boleh melihatnya sebentar saja. Anwar melihat ke jendela dan mulai memperhatikan hujan yang turun di luar. Ada orang berjalan di jalanan dengan memakai payung, dan yang tidak mempunyai payung merapatkan diri mereka ke bangunan. Tak lama kemudian, gumpalan hujan mulai terbentuk di mana-mana. Mobil yang lewat memuncratkan air ke sisi jalan dan orang berlarian dari pemberhentian agar tidak kebasahan. Anwar berpikir betapa menyenangkannya berada di dalam rumah dan dia harus lebih bersyukur kepada Allah Yang telah memberinya makanan dan rumah yang hangat untuk tinggal. Pada saat itu juga, seekor burung jelatik hinggap di bingkai jendela. Anwar berpikir bahwa burung malang itu pasti sedang mencari tempat berteduh dari hujan, dan dia segera membuka jendela.

“Hai, namaku Anwar,” katanya. “Kamu boleh masuk kalau kamu mau.”

“Terima kasih, Anwar,” kata sang burung kecil. “Aku ingin menunggu di dalam sampai hujan reda.”

“Kamu pasti kedinginan di luar sana,” Anwar ikut merasakan “Aku belum pernah melihat burung sedekat ini sebelumnya. Lihat betapa tipisnya kakimu! Bagaimana kakimu dapat menahan badanmu hingga tegak?”

“Kamu benar, Anwar,” sang jelatik setuju. “Kami burung memiliki kaki yang tipis dibanding tubuh kami. Namun, biarpun demikian, kaki-kaki tersebut mampu menahan tubuh kami dengan sangat mudah. Ada banyak otot, pembuluh darah dan syaraf didalamnya. Bila kaki kami lebih tipis atau lebih tebal lagi, akan sulit bagi kami untuk terbang.”

“Terbang pasti rasanya sangat menakjubkan,”  pikir Anwar. “sayapmu terlalu tipis, juga, namun kalian masih dapat terbang dengannya. Jadi, bagaimana kamu dapat terbang sedemikian jauhnya tanpa merasa lelah?”

“Saat pertama kali kami terbang, kami menggunakan banyak sekali tenaga karena kami harus mendukung berat badan kami pada sayap kami yang tipis,” mulai sang jelatik. “Namun begitu kami di udara, kami menjadi santai dengan mebiarkan tubuh kami terbawa angin. Jadi, karena kami menghabiskan lebih sedikit tenaga dengan cara ini, kami tidak menjadi lelah. Saat angin berhenti bertiup, kami mulai mengepakkan sayap kami lagi. Karena kelebihan yang telah Allah ciptakan untuk kami, kami dapat terbang dalam jarak yang sangat jauh.”

Anwar kemudian bertanya, “Bagaimana kamu dapat melihat sekelilingmu saat sedang terbang?”

Sang jelatik menjelaskan: “Organ indera terbaik kami adalah mata kami. Selain memberikan kemampuan untuk terbang, Allah juga memberikan kami indera penglihatan yang sangat hebat. Jika kami tidak memiliki indera penglihatan bersamaan dengan kemampuan ajaib kami untuk bisa terbang, hal itu sangatlah berbahaya bagi kami. Kami dapat melihat benda yang sangat jauh dengan lebih jelas daripada manusia, dan kami memiliki jangkauan penglihatan yang luas. jadi begitu kami melihat bahaya di depan, kami dapat menyesuaikan arah dan kecepatan terbang kami. Kami tidak dapat memutar mata kami seperti manusia karena mata kami diletakkan pada pencengkramnya. namun kami dapat menggerakkan kepala kami berputar dengan cepat untuk memperluas wilayah penglihatan kami.”

Anwar mengerti: “Jadi, itulah mengapa burung selalu menggerakkan kepala mereka: untuk melihat ke sekeliling mereka. Apakah semua mata burung seperti itu?”

“Burung hantu dan burung-burung malam hari lainnya memiliki mata yang sangat lebar,” sang jelatik melanjutkan. “Berkat sel khusus dalam mata mereka, mereka dapat melihat dalam keremangan. Karenanya, burung hantu dapat melihat dengan sangat baik untuk berburu di malam hari. Ada juga jenis burung yang disebut burung air; Allah menciptakan mereka agar mereka dapt melihat dengan sangat baik di dalam air. Mereka mencelupkan kepala mereka ke dalam air dan menangkap serangga atau ikan. Allah menciptakan kemampuan ini dalam burung-burung ini agar mereka dapat melihat dengan jelas di dalam air dan menangkap mangsa mereka.”

“Tidak semua paruh burung sama, nampaknya. Mengapa demikian?” Anwar bertanya.

“Allah menciptakan berbagai jenis paruh yang berbeda untuk burung yang berbeda untuk melakukan pekerjaan yang berbeda,” demikian jawabannya. “Paruh kamu sesuai dengan sempurna terhadap lingkungan di mana kami tinggal. Ulat dan cacing sangat lezat bagi kami para burung pemangsa serangga. dengan paruh kami yang tipis dan tajam, kami dapat dengan mudah mengambil ulat dan cacing dari bawah daun pohon. Burung pemakan ikan biasanya memiliki paruh yang panjang dengan bentuk seperti sendok pada ujungnya untuk menangkap ikan dengan mudah. Dan burung yang makan dari tumbuhan memiliki paruh yang membuat mereka dapat makan dengan mudah dari jenis tumbuhan yang mereka sukai. Allah telah menyediakan dengan sempurna untuk setiap makhluk di Bumi dengan memberikannya kemampuan yang dia butuhkan.”

Anwar punya pertanyaan lain untuk sang jelatik: “Kamu tidak mempunyai telinga seperti yang aku punya, namun kamu masih dapat mendengarkan aku dengan sangat baik. Bagaimana bisa?”

“Indera pendengaran sangatlah penting bagi kami para burung. Kami menggunakannya untuk berburu dan saling memperingatkan akan adanya kemungkinan bahaya sehingga kami dapat melindungi diri kami. Sebagian burung memiliki gendang pendengaran yang membuat mereka mampu mendengar suara yang paling kecil. Pendengaran burung hantu sangat peka akan suara. Burung Hantu dapat mendengar tingkat suara yang tidak dapat didengar manusia,” sang jelatik memberitahukannya.

Anwar kemudian bertanya: “Kalian para burung berkicau dengan sangat merdu. Aku senang mendengarkan kalian. Untuk apa kalian menggunakan suara kalian?”

Sang burung mengangguk: “Sebagian dari kami memiliki kicauan yang berbeda untuk mengusir musuh kami. Terkadang kami membuat sarang kami di dalam lubang pada batang pohon, dan ketika musuh mencoba masuk, kami mendesis layaknya ular. Penyusup tersebut berpikir bahwa ada ular di dalam sarang itu, sehingga kami dapat melindungi sarang kami.”

“Apa lagi yang kalian lakukan untuk melindungi sarang kalian dari musuh?” Anwar ingin tahu.

“Kami membangun banyak sarang tipuan untuk menyesatkan musuh kami,” kata sang burung. “Dengan cara ini kami membuat para penyusup tersesat dan melindungi sarang dan telur kami yang telah kami sembunyikan di daerah tersebut. Untuk melindungi sarang kami dari ular berbisa, kami menutupi jalan masuk dan membuatnya sangat berliku-liku. Kewaspadaan lainnya adalah membangun sarang pada pohon yang cabangnya berduri.”

“Bagaimanakah sebagian burung dapat berenang dalam air? dan mengapa tidak semua burung dapat berenang?” Anwar bertanya pada temannya.

Sang jelatik menjawab: “Allah telah menciptakan sebagian dari kami dengan kemampuan untuk berenang. Dia telah memberikan mereka kaki berselaput jala agar mereka mampu berenang saat masuk ke dalam air. Sebagian lain dari kami memiliki jari tipis tanpa jala. jadi, selain burung air, burung tak dapat berenang.”

“Sama seperti sepatu renang!” Anwar berseru. “Saat aku berenang dengan memakai sepatu renang, aku dapat berenang dengan jauh lebih cepat.”

“Ada beberapa burung yang telah memiliki sepatu renang ini sejak lahir,” kata sang burung.

Saat Anwar dan sang burung sedang berbincang-bincang, ibunya menyuruh Anwar untuk masuk ke kamarnya dan mengerjakan pekerjaan rumahnya. Pada saat bersamaan, hujan pun telah reda.

Anwar berkata pada temannya: “Sekarang aku harus masuk ke kamarku dan mengerjakan pekerjaan rumahku. Besok aku akan bercerita kepada teman-temanku tentang kemampuan istimewamu, dan bagaimana Allah telah menciptakan kamu dan makhluk lainnya melalui karya seni kreatif yang sedemikian sempurna.”

“Hujan telah reda, jadi aku dapat kembali ke sarangku,” jawab sang jelatik. “Terima kasih telah membawa aku masuk, Anwar. Saat kau menceritakan temanmu tentang kami, Bisakah kamu sampaikan juga kepada mereka untuk peduli kepada kami dan jangan melemparkan batu kepada kami atau kepada makhluk lainnya?”

“Ya, tentu saja aku akan menyampaikannya kepada mereka,” Anwar setuju. “Semoga Allah melindungimu.”
Anwar membuka jendela dan sang burung segera terbang, melayang menembus udara. Anwar memikirkan kesempurnaan dalam ciptaan Allah dan duduk mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Teman Kecil Ali

Ali dan keluarganya pergi ke desa di pagi hari pada hari minggu untuk piknik. Ibunya mengatur perlengkapan piknik di atas tanah.

Ibunya telah memenuhi keranjang dengan wortel, kesukaan Ali. Langsung saja, Ali duduk di bawah pohon. Dia membaca buku dan memakan wortel. Dia melihat seekor kelinci mendekati keranjang. Ali duduk perlahan, mencoba untuk tidak menakuti sang kelinci kecil.

“Kamu pasti lapar, kelinci kecil,” katanya.

“Memang benar. Aku sangat suka wortel,” sang kelinci setuju.

“Mari,” kata Ali: “Ayo makan wortel-wortel ini bersama-sama dan berbincang-bincang. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu…”

Sang kelinci mulai berbicara: Kami para kelinci tinggal di sarang yang disebut lubang kelinci, yang kami gali di bawah tanah. Dan wortel sangat cocok dengan kehidupan kami di bawah tanah karena mereka tumbuh di dalam tanah. Jadi kami dapat menemukannya dengan mudah. Wortel adalah makanan kesukaan kami, dan Allah telah menciptakan wortel sedemikian sehingga kami tidak kesulitan menemukannya. Karena Allah menghendaki seperti ini, kami tidak mempunyai masalah dalam mencari makanan. Ini adalah salh satu keajaiban ciptaan-Nya.”

Ali berpikir betapa Allah telah menciptakan segalanya dengan cara yang tepat untuk digunakan para hewan. Dia teringat akan jeruk yang dia makan di musim dingin. Dia mengagumi bagaimana jeruk itu dikupas dari kulitnya dalam bentuk terpotong-potong sehingga dia dapat dengan meudah memakannya. Apabila jeruk itu tercipta dalam bentuk yang berbeda, pikirnya, mungkin akan sulit dimakan. Jeruk mengandung banyak Vitamin C, yang sangat bermanfaat untuk kesehatan, dan Ali bersyukur kepada Allah Yang menciptakan jeruk dalam keadaan siap terpotong dan dikemas sedemikian rupa sehingga orang mudah memakannya. Dan, tentu saja, merupakan nikmat lainnya bahwa kita memiliki gigi untuk memakan jeruk. Allah juga memberikan kelinci gigi depan untuk memotong wortel dengannya.

“Baiklah,” kata Ali, “Kemampuan istimewa apa lagi yang telah diberikan Allah Yang Mahakuasa kepadamu?”

Sang kelinci menjawab: “Allah telah memberikan setiap makhluk kemampuan untuk mempermudah hidupnya. Ada banyak jenis kelinci dengan kemampuan yang berbeda-beda di dunia. Misalnya, kelinci yang tinggal di daerah dingin biasanya berbulu putih, supaya mereka sulit untuk dilihat dan dapat bersembunyi dengan mudah. Kelinci liar seperti aku memiliki kaki dan telinga yang lebih panjang. Kelinci yang tinggal di gurun pasir Amerika memiliki telinga yang besar. Telinga itu membantu kelinci untuk mendinginkan tubuh di panasnya gurun.”

Ali mengangguk: “Setiap orang tahu cerita mengenai kamu dan kura-kura. Kamu pelari yang cepat, bukan?”

“Ya,” sang kelinci mengangguk. “Kaki belakangku lebih panjang dan lebih kuat dari kaki depanku. Jadi aku dapat berlari secepat 40 sampai 45 mil per jam (60 km/jam dan 70 km/jam) dan terkadang melompat sejauh 20 kaki (6 meter) dalam sekali lompatan.”

“Jadi, bagaimana kamu menemukan rumah bawah tanahmu. Dan saat kamu tidak di sana, adakah kelinci lain yang menempatinya?” Ali ingin tahu.

“Beberapa binatang menandai rumah mereka dengan aroma bau,” teman barunya menjelaskan. “Misalnya, rusa kecil Afrika meninggalkan zat yang dihasilkan dari kelenjar di bawah mata mereka. Bau dari zat ini menandai wilayah tempat tinggal mereka. Kami mempunyai kelenjar di taring kami dan kami menandai rumah kami dengan bau dari kelenjar tersebut. Jadi kelinci lain tidak menempatinya dan kami dapat menemukan rumah kami dengan mudah. Tentu saja, ini bukanlah hal yang kami lakukan dengan sendirinya, namun melalui tuntunan Allah.”

“Apakah kamu mempunyai saudara laki-laki dan perempuan?” tanya Ali.

“Kami para kelinci berkembang biak dengan sangat cepat,” jawab temannya. “Induk kelinci hamil dalam waktu yang sangat singkat, sekitar 28-33 hari. Induk kelinci melahirkan bayi kelinci yang banyak dalam sekali waktu. Sebagai contohnya, aku mempunyai 15 saudara… kelinci muda tinggal bersama induknya dalam waktu sekitar satu bulan. Dan kelinci mempunyai sifat lain: kelinci dapat kawin 3-4 hari setelah dilahirkan.”

Pada saat itu, ayah Ali datang dan bergabung dalam percakapan mereka.

“Aku bahkan tidak mengetahu semua ini, kelinci kecil,” katanya: “Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu. Betapa mengagumkannya Dia telah menciptakan seluruh jagat raya dan segalanya dan setiap makhluk di dalamnya. Dalam Al Qur’an Allah Yang Mahakuasa berfirman:

(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. (QS. al-An’am, 6:102)

Dia telah memberikan kita semua nikmat yang kita miliki agar kita bersyukur kepada-Nya dan mendapat pertolongannya di kehidupan dunia ini di mana kita mengalami ujian yang mempersiapkan kita untuk kehidupan yang abadi. Kamu tahu bahwa Allah berfirman kepada kita dalam Al Qur’an bahwa dia telah menciptakan kita hanya untuk menyembah-Nya. Hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah bersyukur atas semua nikmat, mengatur kehidupan kitas sesuai dengan Al Qur’an dan hidup untuk Allah. Allah berfiman dalam Al Qur’an:

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. al-Kahfi, 18:28)

“Ayah,” tanya Ali: “Kalau ayah coba lihat ke sekiling kita dan memikirkannya, ada begitu banyak yang harus disyukuri, bukan? Pohon yang kita lihat setiap hari, burung yang terbang, kelinci kecil… kalau ayah melihat itu semua dengan seksama, ayah melihat rancangan sempurna pada setiap ciptaan tersebut. Dan hanya daya kreasi yang sempurna dari Allah Yang Mahakuasa yang dapat melakukannya, bukan? Bila tidak, bagaimana mungkin seekor kelinci menjadi cukup pintar untuk mendapatkan semua keterampilan ini dengan dirinya sendiri?”

“Kamu benar, Ali,” jawab sang kelinci: “Kalau Allah tidak memberikan kami semua kemampuan kami saat Dia menciptakan kami, tidak satupun dari kami memiliki kemampuan untuk mendapatkan itu semua dengan sendirinya.”

Ayah Ali menambahkan: “Ali, bagus sekali kita melakukan piknik ini. Awalnya kamu tidak mau pergi bersama kami, namun kemudian kamu berkenalan dengan kelinci kecil ini dan perbincangan kamu telah membuatmu memikirkan beberapa hal.”

“Ayah benar,” Ali setuju. “Perbincangan kita telah membantu aku untuk melihat Allah dalam setiap hal. Terima kasih, kelinci kecil, aku harus pergi dengan ayahku sekarang. Aku akan menanyakan ibuku apakah kami masih memiliki wortel lagi, bila iya, akan aku bawakan untukmu. Sampai jumpa lagi, selamat tinggal.”

“Terima kasih, Ali,” kata sang kelinci kecil. “Semoga Allah memberkatimu.”

Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini (QS. al-Jathiyya, 45:3-4)


MAQSUD DAN SANG ANAK KUCING

Ada kejutan besar menunggu Maqsud saat dia pulang dari sekolah. Ayahnya telah membelikannya seekor anak kucing kecil. Maqsud akan menghabiskan waktu yang tersisa setelah mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan bermain bersama anak kucing miliknya yang lucu. Suatu malam, saat dia di tempat tidur, dia terkejut melihat sang anak kucing meninggalkan kamarnya dan menemukan piring susu dalam kegelapan di ruang tamu.

“Bagaimana kamu menemukan piring susumu dengan demikian mudah dalam kegelapan seperti ini?” Maqsud bertanya, terkagum-kagum.

“Kami tidak membutuhkan banyak cahaya untuk melihat, Maqsud,” sang anak kucing mengeong. “Mata kami diciptakan berbeda dari manusia. Pupil mata kami tumbuh sangat besar sehingga kami dapat mengambil cahaya sebanyak mungkin dalam kegelapan. Dan kami para kucing memiliki lapisan dalam mata kami yang tidak dimiliki manusia; lapisan ini terletak tepat di belakang retina dan memantulkan kembali cahaya. Jadi, cahaya melewati retina kami dua kali. Itulah mengapa kami dapat melihat dengan sangat baik dalam gelap dan juga mengapa mata kami sangat bercahaya. Allah telah menciptakan kami dengan segala kemampuan yang kami butuhkan untuk bertahan hidup dalam berbagai macam keadaan. Sangatlah tidak mungkin, sebagaimana yang disebutkan oleh teori evolusi, bahwa kami dapat mengevolusikan kemampuan ini secara tidak sengaja selama perjalanan waktu. Allah telah menciptakan kucing dan makhluk hidup lainya dengan sempurna dalam satu waktu.”

Maqsud berpikir sejenak: “Kami manusia tahu bahwa walaupun kalian jatuh dari tempat yang tinggi kalian selalu mendarat dengan kaki kalian. Bagaimana kalian melakukan itu?”

“Kamu benar,” kata sang anak kucing. “Kami para kucing senang memanjat di sekitar pohon tinggi. Allah telah memberikan kami kemampuan istimewa ini untuk melindungi kami agar tidak terluka saat jatuh. Saat kami jatuh, kami menggunakan ekor kami untuk keseimbangan, mengubah pusat gaya tarik tubuh kami dan mendarat dengan kaki kami. Kemampuan untuk melindungi ini menunjukkan kasih sayang yang tiada akhir dan belas kasihan dari Allah.”

Maqsud dengan lembut mengangkat sang anak kucing dan memangkunya. Setiap hari, saat dia melihat salah satu dari makhluk kecil yang manis ini, dia memikirkan betapa mereka adalah bukti yang menakjubkan akan kekuatan kreatif mahatinggi milik Allah. Dan juga, cinta dan kelembutan yang dia rasakan terhadap kucing tumbuh lebih besar lagi. Dan sang anak kucing menunjukkan bahwa dia menyayangi Maqsud dengan mengeong setiap dia mengelus bulunya.

Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal”. (QS. asy-Syu’araa’, 26:28)

Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia. (QS. al-Hajj, 22:65)


SAYYID DAN SANG CUMI-CUMI

Sayid menggunakan kesempatan liburan musim panas untuk berenang sebanyak mungkin. Ayahnya memberikan dia sepasang kacamata selam agar dia dapat melihat di bawah air. Sayid terkesima dengan keindahan menakjubkan yang dilihatnya saat di dalam air. Suatu saat ketika dia sedang meilhat-lihat di bawah air dengan kacamata selamnya, dia melihat sesuatu yang tidak tampak seperti seekor ikan.

“Hai, siapa kamu?” Sayid memanggil.

“Tidak mengherankan kalau kamu terkejut, Sayid!” sang makhluk memanggil kembali. “Aku seekor cumi-cumi. Orang sering menganggap kami sebagai ikan; walaupun kami sangatlah berbeda. Misalnya, kami tidak memiliki satu tulangpun dalam tubuh kami.”

Sayid terheran-heran, “Jika kalian tidak memiliki tulang dalam tubuh kalian, bagaimana kalian bergerak?” tanyanya.

“Bila kamu ingin mengetahu yang sebenarnya,” jawab sang cumi-cumi, “Kami dapat bergerak dengan cara yang mengejutkan kamu. Tubuh kami sangat lunak dan kulit kami sangat tebal. Kami memiliki otot di bawah kulit kami yang kami gunakan untuk mengambil air ke dalam tubuh kami dan kemudian meniupkannya ke luar dengan kuat. Begitulah cara kami berenang.”

“Dapatkah kamu ceritakan kepadaku bagaimana tepatnya kalian melakukan itu?” tanya Sayid.

Sang cumi-cumi menjelaskan: “Kami memiliki dua buah semacam kantung yang terbuka di tiap sisi pada kepala kami. Melalui itu, kami menarik air ke dalam penampung di dalam tubuh kami, dan kemudian kami mendorong air tersebut keluar dengan tekanan yang sangat kuat melalui pipa sempit yang terletak tepat di bawah kepala kami. Dengan gaya yang tercipta, kami dapat bergerak dengan cepat berlawanan arah air yang kami dorong keluar. Dan kami juga dapat menyelamatkan diri dengan sangat cepat dari musuh manapun yang mengejar kami.”

“Baiklah,” ujar Sayid, “Katakanlah kalian tidak cukup cepat untuk menyelamatkan diri; apa yang kalian lakukan kemudian?”

“Jika kami tidak cukup cepat untuk melarikan diri,” lanjut sang cumi-cumi, “Kami memuncratkan segumpal tinta hitam pekat ke arah musuh kami, yang membingungkan mereka. Hanya beberapa detik saja yang kami butuhkan. Musuh kami tidak dapat melihat kami di balik gumpalan hitam pekat dan kami dapat melarikan diri.”

Sayid terkesan: “Allah telah secara khusus melengkapi kalian untuk menghadapi segala kesulitan yang mungkin kalian hadapi. Aku pikir tidaklah kami manusia atau makhluk lainnya dapat meraih kemampuan ini dengan diri kami sendiri.”

Sang cumi-cumi setuju: “ Kamu benar, Sayid. Ini datang dari pengetahuan kereatif mahatinggi dari Allah Yang Mahakuasa. Dia telah menciptakan semua makhluk yang kamu lihat dengan segala sifat menakjubkan mereka. Tidak ada makhluk yang mampu meraih kemampuan ini dengan sendirinya. Kekuatan dan Pengetahuan Allah ada di mana-mana, dan tidak ada kekuatan yang terpisah dari-Nya.”

“Aku sangat senang telah berjumpa denganmu, Tuan Cumi-cumi. Terima kasih atas penjelasannya,” ujar Sayid dan dia pun berenang menjauh.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. al-Baqarah, 2:255)


KAMAL DAN SANG KUDA LAUT

Kamal pergi bersama keluarganya ke pantai di sebuah pondok liburan. Di sana terdapat sebuah akuarium di depan sebuah toko kecil dengan beberapa makhluk laut yang menarik di dalamnya. Kamal mendekati akuarium tersebut dan melihat seekor kuda laut berenang di seputar dalam akuarium dengan pelan-pelan.

“Kamu sangat kecil,” kata Kamal. “Aku pikir kuda laut lebih besar lagi.”

“Ya,” jawab sang kuda laut. “Mereka yang melihat kami di buku-buku dan televisi berpikir bahwa kami jauh lebih besar dari ukuran kami sebenarnya, yang hanya antara 2 dan 12 inci (4 dan 30 cm).”

Kamal melihat lebih dekat: “Matamu dapat bergerak ke segala arah, ya? Dan karenanya kamu dapat mengetahui apa yang terjadi di sekelilingmu.”

“Kamu benar,” sang kuda laut setuju. “Allah menciptakan kepala kami pada sudut yang tepat terhadap kepala kami. Tidak ada makhluk laut lain yang memiliki ciri seperti ini. Karenanya, kami berenang dengan tubuh kami pada posisi tegak dan kami hanya dapat menggerakkan kepala kami ke atas atau ke bawah. Sebenarnya, jika makhluk lain memiliki ciri seperti ini, mereka akan kesulitan menggerakkan kepala mereka ke kiri dan kanan dan tidak akan mampu melindungi diri mereka dari segala macam bahaya. Namun kami tidak mempunyai masalah tersebut karena rancangan tubuh kami yang khusus.

Allah Yang Mahakuasa telah menciptakan mata kami tidak saling bergantung satu sama lain dan mampu bergerak dengan leluasa ke segala arah, dan saat mata itu bergerak mata dapat melihat dengan mudah ke sekelilingnya. Jadi, walaupun kami tidak memalingkan kepala kami dari sisi ke sisi, kami dapat melihat sekeliling kami.

Dengan kekayaan beraneka ragam rancangan dan sifat-sifat menakjubkan yang Dia ciptakan dalam makhluk hidup, Allah menunjukkan kepada kita pengetahuan yang tidak terbatas dan daya seni-Nya yang tiada akhir.”

Kamal memikirkan pertanyaan lain yang ingin ditanyakannya: “Ada hal yang membuatku ingin tahu: kamu tidak memiliki sayap atau ekor, jadi bagaimanakah kamu bergerak ke atas dan ke bawah di dalam air?”

Sang kuda laut menjawab: “Kami memiliki sistem khusus dalam berenang. Kami memiliki kantung renang dengan semacam gas di dalamnya. Dengan melakukan perubahan yang diperlukan dalam jumlah gas tersebut, kami dapat bergerak ke atas dan ke bawah di dalam air. Jika kantung udara ini rusak, kami akan tenggelam ke dasar laut.

Dengan kata lain, bila terjadi perubahan jumlah gas dalam kantung renang kami, kami akan mati. Allah telah menetapkan jumlah ini dengan sangat hati-hati.”

“Sebuah rancangan yang sangat menakjubkan!” hela Kamal.

“Seperti yang kamu lihat, teman kecilku,” sang kuda laut meneruskan, “Allah telah menciptakan kuda laut dan setiap makhluk lainnya di alam semesta dengan sifat-sifat mereka yang sempurna. Kami para kuda laut, hanyalah salah satu dari banyak jenis makhluk di bawah laut, danrancangan kami adalah contoh dari Kekuasaan yang tiada batas dan Pengetahuan tiada akhir milik Allah.”

Saat percakapannya dengan sang kuda laut berakhir, Kami kembali kepada ibunya. Rancangan yang menakjubkan dalam binatang mungil ini membuat Kamal semakin ingin tahu mengenai daya seni kreatif Allah.


KARIM DAN KAKEK HASSAN

Karim sedang melihat ke jendela, sudah tidak sabar menunggu kakeknya. Sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama Kakek Hassan. Akhirnya, kakeknya tiba. Karin berlari dengan gembira ke arah pintu dan memeluknya. Seperti yang dia harapkan, kakeknya telah membawakannya sebuah hadiah—mainan kesukaannya dan beberapa buku bergambar. Kakek Hassan senang melihat cucunya sangat gembira. Dia berkata: “Hari ini, kakek harus mengerjakan sesuatu di luar kota, kamu mau ikut dengan kakek? Kita dapat menikmati perjalanan di luar bersama-sama.”

Karim dengan gembira menerimanya maka pergilah mereka. Mereka pun meninggalkan kota, dan Karim sangat menikmati perjalanan kejutan ini.

“Udaranya sangat luar biasa,” dia bernafas dalam-dalam. “Hari ini kita mengisi paru-paru kita dengan udara sejuk ini. Karim berharap udara selalu seperti ini di dalam kota.”

“Itu akan sedikit sulit, Karim,” jawab kakeknya, “karena buangan mobil, asap dari cerobong, terlebih di musim dingin, dan langkanya pepohonan dan tumbuhan mencegah udara di kota dari menjadi bersih.”

Karim merenung sejenak: “Karim mengerti mengenai asap, tapi Karim belum begitu mengerti apa kaitannya tumbuhan dengan ini. Pohon gunanya untuk menghasilkan buah dan memperindah kota, bukan?”

“Ya,” jawab Kakek Hassan, “Pohon dapat melakukan itu semua; namun mungkin yang terpenting adalah, pohon juga membersihkan udara. Pohon bernafas dengan cara yang sebaliknya dari makhluk hidup lainnya. Manusia dan hewan mengambil oksigen dari udara, dan setelah menggunakannya dalam tubuh mereka, mereka menghembuskan udara yang telah dipakai sebagai karbon dioksida. Namun tumbuhan melakukan hal yang sebaliknya: tumbuhan mengambil karbon dioksida dan melepaskan oksigen, yang dengan demikian tumbuhan membersihkan udara. Ada sifat mengagumkan lainnya dari tumbuhan, Karim, dan Allah-lah, Yang Mahabijaksana, Yang telah menciptakan semgalanya. Bila kamu mau, kakek bisa menceritakan apa yang kakek ketahui mengenai tumbuhan.”

“Ya, silakan, Kakek; Karim ingin mendengarnya!” jerit Karim dengan gembira.

Kakek Hassan mengambil nafas dalam-dalam dan memulai, “Tumbuhan bernafas dalam sebuah proses yang disebut fotosintesis.”

“Apakah fotosintesis itu?” Karim memotong pembicaraan.

“Kakek akan mencoba menjelaskannya kepadamu,” kata kakeknya, “tapi itu tidak akan mudah karena sangat sulit dan rumit. Bahkan para ilmuwan masih mencoba untuk memahami proses ini sepenuhnya.”

Karim berpikir sejenak: “Jadi, tumbuhan bertahan hidup melalui sebuah proses yang para ilmuwan sedang mencoba memahaminya. Saat kakek menyebut ‘proses’ Karim berpikir mengenai operasi matematika dan rumus-rumus. Bahkan kami menganggap terkadang matematika sulit untuk dipelajari, namun tumbuhan, yang tidak memiliki pikiran atau tubuh seperti yang kita miliki, dapat melakukannya. Ini sebuah keajaiban!”

Kakek Hassan tersenyum: “Ya, itu benar-benar sebuah keajaiban. Dari sejak tumbuhan diciptakan, tumbuhan telah melaksanakan proses ini tanpa masalah. Di mana saja tumbuhan hijau berada, itu artinya di sana terdapat sebuah pabrik yang menghasilkan gula dari karbon dioksida dan air dengan menggunakan tenaga matahari. Walaupun kurang kita perhatikan, bayam yang kita makan, sayuran kol dalam selada kita dan bunga ivy di rumah kita selalu dalam kegiatan yang menghasilkan untuk kita. Ini adalah hasil dari kasih sayang Allah Yang Mahakuasa, dengan pengetahuan-Nya yang mahatinggi, miliki untuk manusia. Dia telah menciptakan tumbuhan demi kepentingan manusia dan seluruh hewan. Proses yang tanpa cacat ini, yang bahkan teknologi masa kini pun tidak dapat memahami sepenuhnya, telah digunakan oleh dedaunan selama jutaan tahun. Dalam Al Qur’an, Allah memberitahukan kita bahwa seorang manusia tidak dapat menciptakan sebuah pohon pun dari ketiadaan:

Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya?… (QS. an-Naml, 27:60)

Karim terkagum-kagum dengan tanaman yang dapat bernafas melalui proses kimia istimewa yang disebut fotosintesis ini.

“Jadi, bagaimana proses ini terjadi?,” dia ingin tahu. Sementara dia sedang memikirkan mengenai hal ini, kakeknya melanjutkan ceritanya: “Dengan menggunakan tanah, udara dan matahari, sel tumbuhan yang tidak memiliki kesadaran mengambil sejumlah mineral dan air dari dalam tanah dan menghasilkan makanan untuk manusia. Dengan tenaga yang tumbuhan ambil dari matahari, tumbuhan mengurai  bahan-bahan ini dan kemudian mengumpulkannya kembali untuk menghasilkan makanan. Ini hanyalah garis besar dari proses tersebut, namun dalam tiap tahapan kamu akan dapat melihat bahwa terdapat sebuah rencana yang sengaja dan pintar. Jelaslah bahwa tujuan dari sistem operasi yang menakjubkan ini adalah untuk menyediakan sumber kehidupan yang dirancang demi kepentingan manusia.”

“Jadi, apakah yang dilakukan oleh daun?” tanya Karim.

Kakek Hassan melanjutkan: “Kamu tahu mikroskop yang kamu miliki di laboratorium sekolah untuk meniliti banyak hal?… ketahuilah, jika kita akan meneliti sehelai daun dari dekat di bawah sebuah mikroskop yang sangat canggih, kita akan sekali lagi melihat kedahsyatan karya seni kreatif Allah. Terdapat sebuah sistem produksi sempurna dalam tiap-tiap daun. Untuk memahami sistem ini secara lebih baik, kita dapat membandingkan apa yang terjadi dalam daun dengan perabotan yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Saat kita memperbesar unsur-unsur dalam sehelai daun, kita melihat sebuah pabrik makanan yang berproduksi secara otomatis dan teratur dengan pipa-pipa yang bekerja terus-menerus, ruangan yang dibangun untuk proses khusus, katup yang bekerja seperti kuali masak bertekanan tinggi dan tombol yang tak terhitung jumlahnya sedang mengendalikan ribuan proses. Dan jika kita melihat secara lebih teliti, kita melihat penghitung waktu, pengukur suhu, pengatur kelembaban, tata cara pengendalian panas dan sistem umpan balik yang diletakkan pada titik-titik tertentu.”

Karim berpikir sejenak: “Menakjubkan sekali bahwa semua itu terjadi dalam sehelai daun kecil dan bekerja tanpa masalah.”

“Allah lah, Karim, Yang memasukkan dan merancang sistem luar biasa ini,” Kakek Hassan mengingatkan cucunya. “Dengan izin Allah, setiap daun di dunia telah memiliki sistem luar biasa ini. Jangan sampai kau lupakan itu.”

Sambil mendengarkan Kakek Hassan, Karim melihat sebuah pohon yang sangat besar, dan sebuah masalah muncul untuknya. Dia mulai bertanya-tanya bagaimana sebuah pohon dapat bertahan hidup tanpa menyelesaikan masalah itu. Dia segera bertanya kepada kakeknya: “Kakek, pohon sangatlah tinggi. Bagaimana pohon mengambil air dan makanan dari dalam tanah? Lihatlah pohon itu! Tinggi sekali, tapi daun di puncaknya tetap sangat hijau.”

Kakek Hassan mengangguk: “Ingatkah kamu? Beberapa waktu lalu Kakek membandingkan daun dengan pabrik; marilah kita membuat perbandingan yang sama lagi. Pikirkanlah sebuah jalur pipa dengan pembungkus seperti jaring-jaring di seluruh bagiannya; jalur pipa tersebut memastikan bahwa bahan mentah sampai ke unit-unit produksi dan produk yang dihasilkan dari unit-unit ini disalurkan dalam cairan seperti sirup yang dihasilkan di dalam daun ke daerah lain sehingga seluruh bagian dalam pohon mendapatkan makanan. Saluran ini diperuntukkan tidak hanya untuk mengangkut cairan penting ini; saluran ini juga membangun sistem rangka pohon dan daunnya. Dalam bangunan yang dibangun manusia, unsur yang menahan bangunan agar tetap tegak (besi beton dan penopang) dan sistem pengairan dibangun secara terpisah. Merupakan rancangan yang menakjubkan bahwa, dalam hal tumbuhan, kedua hal tersebut terjadi pada tempat dan saat yang bersamaan.”

Karim berpikir: “Ini merupakan sistem yang menakjubkan. Karim ingin tahu…  ini bagaikan ada kalender atau jam yang tersembunyi di dalam tumbuhan sehingga tumbuhan dapat melakuka hal yang sama setiap saat tanpa kebingungan. Misalnya, setiap musim semi bunga bermekaran dan setiap musim gugur, daun berjatuhan dari pohon. Bagaimana itu bisa terjadi, Kakek?”

“Ilmuwan menyebut ini jam biologis,” kakeknya menjelaskan. “Jam yang membuat penyesuaian waktu untuk tumbuhan menghitung sampai seberapa lama cahaya matahari jatuh ke daun. Jam biologis ini menghitung rentang waktu secara berbeda-beda untuk tiap tumbuhan. Misalnya, sebagai hasil dari percobaan yang dilakukan pada kacang kedelai, kita tahu bahwa tumbuhan mekar setiap tahun pada waktu yang bersamaan, tak peduli kapan pun tumbuhan tersebut ditanam. Pastilah Allah Yang membuat penyesuaian waktu dalam tumbuh-tumbuhan.”

Kakek Hassan dan cucunya berhenti di perkebunan di tepi jalan. Setelah mendapat izin dari pemiliknya, mereka mengambil beberapa plum, mencucinya dengan cermat dan mulai memakannya. Plum itu sangat lezat. Kakek Hassan berkata, “Tahukah kamu, Karim, bahwa tenaga yang tumbuhan berikan kepada kita sebenarnya berasal dari matahari?”

Karim terkejut: “Bagaimana maksud kakek?” dia bertanya, “Saat kita memakan plum ini, apakah kita sebenarnya sedang memakan matahari?”

Kakek Hassan tersenyum: “Sebenarnya kita memakan matahari, tetapi secara tidak langsung. Kita semua tahu bahwa sumber tenaga utama di bumi adalah matahari. Namun manusia dan hewan tidak menggunakan tenaga ini secara langsung, karena kita tidak memiliki sistem yang tepat. Kamu tahu bagaimana kita menggunakannya? Manusia dan hewan hanya dapat memperoleh tenaga yang siap guna dari zat makanan yang dihasilkan tumbuhan. Tenaga yang kita gunakan sebenarnya adalah tenaga matahari yang diberikan kepada kita oleh tumbuhan. Misalnya, saat kita menghirup teh kita sebenarnya menghirup tenaga dari matahari; saat kita mengunyah sepotong roti, sebenarnya terdapat potongan energi matahari di sela-sela gigi kita. Kekuatan dalam otot kita sebenarnya adalah bentuk lain dari tenaga matahari. Karena tenaga ini, kamu dapat berlari dan bermain, Jadi bagaimana tumbuhan mengatur ini? Tumbuhan melakukan beberapa kegiatan rumit agar dapat memberikan tenaga matahari untuk kita. Apa yang membuat tumbuhan menghasilkan makanan mereka sendiri dan memisahkan tumbuhan dari makhluk hidup lainnya adalah bahwa sel tumbuhan berbeda dari sel manusia dan hewan; tumbuhan memiliki susunan dalam selnya yang membuat tumbuhan mampu menggunakan tenaga matahari secara langsung. Melalui bantuan susunan ini, tumbuhan mengubah tenaga matahari ke dalam bentuk yang manusia dan hewan dapat gunakan sebagai makanan, dan tumbuhan menyimpan tenaga ini dalam makanan dengan menggunakan rumus khusus yang tersembunyi.”

“Itu menakjubkan!” seru Karim, bergembira: “Allah telah menciptakan segalanya untuk kepentingan manusia!”

Kakek Hassan setuju: “Maka, kita harus memikirkan semua ini dan bersyukur kepada Allah bahwa Dia telah memberikan begitu banyak nikmat. Allah berfirman kepada kita dalam Al Qur’an bahwa kita harus bersyukur kepada-Nya:

supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? (QS. Ya Sin, 36:35)

Pelajaran kesukaan Karim adalah Ilmu Pasti. Tiba-tiba, sebuah percobaan yang mereka lakukan di sekolah terlintas ke dalam benaknya. Dia berpaling kepada kakeknya dan berkata: “Kakek, kami melakukan percobaan di sekolah suatu hari. Guru kami memberikan pekerjaan rumah untuk dikerjakan. Kami meletakkan sebutir kacang di dalam sehelai kapas, menempatkannya di tempat terang dan memberikan air untuk beberapa hari. Tebak apa yang terjadi!”

Kakek Hassan tersenyum lagi: “Kacang tersebut mengeluarkan tunas, kan? Mari kita pikirkan itu. Itu menunjukkan kepadamu kejadian alam yang paling mendasar; yang sebenarnya adalah sebuah keajaiban. Kamu pernah melihat seekor kelinci ditarik keluar dari sebuah topi kosong dalam pertunjukan sulap, kan?; hal itu hampir sama dengan tumbuhan yang bertunas dalam sehelai kapas atau dalam tanah. Dalam pertunjukan sulap, bagaimanapun, mata kita ditipu, namun tumbuhan yang muncul dari sebuah benih kecil tidaklah menipu siapa pun. Dengan keajaiban semacam ini, Allah, Yang Mahatahu, membuat tumbuhan dari benih kecil dan menunjukkan kepada kita dengan jelas bahwa tidak ada makhluk hidup yang ada karena ketidaksengajaan. Mereka yang berkata bahwa makhluk hidup muncul ke dalam kehidupan berdasarkan ketidaksengajaan adalah menipu diri mereka sendiri, bukan begitu, Karim?”

“Ya, Kakek,” Karim setuju dengan gembira.

Kakek Hassan melanjutkan: “Bagian dari tumbuhan yang bertunas dari benih yang kecil menghujam ke dalam tanah dan bagian lain tumbuh ke atas. Tanah cukup keras dan terkemas dengan ketat dan sangat sulit untuk tumbuh ke dua arah. Tunas benih kecil ini tidak memiliki kecerdasan dan kesadaran seperti kita, jadi sungguh merupakan keajaiban bagaimana benih tersebut melakukannya.”

“Coba pikirkan apa yang terjadi bila kita menaruh benih di dalam tanah namun tidak bertunas,” tangis Karim.

“Maka kita semua akan mengalami masalah besar dalam mencari makanan untuk dimakan. Dan jika manusia dan binatang tidak dapat menemukan sesuatu untuk dimakan, mereka perlahan-lahan akan mati.”

Kakek Hassan menganggukkan kepala: “Allah memperingatkan kita dalam Al Qur’an, Karim:

Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia hancur dan kering, maka jadilah kamu heran dan tercengang. (QS. al-Waaqi’ah, 56:63-65).”

Saat mereka berjalan, Karim mulai memikirkan apa yang kakeknya telah sampaikan kepadanya. Dia menceritakan kakeknya apa yang sedang dia pikirkan: “Tumbuhan sangat penting untuk kelangsungan hidup kita, Kakek. Tumbuhan dapat membersihkan udara yang kita hirup, tumbuhan memberikan kita makanan dan tenaga, tumbuhan menyediakan buah-buahan dan sayuran yang lezat untuk kita dan membuat semua tempat menjadi indah. Coba lihat. Lihatlah berapa banyak pohon, bunga, buah dan padi-padian yang berbeda!”

“Terdapat nikmat lain yang kamu lupakan,” kata kakeknya. “Nikmat itu datang dari tumbuhan, dan Allah berfirman kepada kita dalam Al Qur’an:

yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu”. (QS. Ya Sin, 36:80)

“Benar, bagaimana Karim dapat lupa?” tanya Karim. “Kita membakar kayu dari pepohonan untuk menghangatkan tubuh. Bahan mentah untuk buku, buku tulis, surat kabar dan semua jensi kertas berasal dari pohon; seperti halnya juga korek api untuk membuat api, kursi berlengan yang kita duduki, meja kita, pintu, jendela…”

Kakek Hassan setuju sepenuhnya: “Terlepas dari kegunaan tumbuhan, tumbuhan juga memiliki sifat lain. Pohon Pinus yang tumbuh di Amerika tengah dan selatan menarik dan menyediakan makanan yang cocok bagi ulat hijau dan hitam dan kupu-kupu merah. Serangga ini bertelur di pohon pinus sehingga pada saat menetas, serangga dari telur-telur tersebut akan memiliki makanan yang enak untuk dimakan. Namun hal yang penting adalah: sebelum serangga bertelur di pinus, Kupu-kupu memeriksa daunnya. Bila ada serangga lain yang bertelur di sanan, kupu-kupu tahu bahwa akan sulit bagi dua keluarga serangga untuk mencari makan dari daun-daun pada pohon yang sama, jadi Kupu-kupu tersebut memutuskan untuk meninggalkan tumbuhan itu dan mencari daun pohon mana yang masih tersedia.

Pohon pinus membentuk tonjolan hijau pada permukaan daunnya. Dan beberapa jenisnya menghasilkan bintik-bintik yang menyerupai telur kupu-kupu di bawah daunnya pada titik di mana cabang-cabang bertemu. Saat ulat dan kupu-kupu melihat ini, ulat dan kupu-kupu berpikir bahwa serangga lain telah lebih dahulu bertelur di daun tersebut. Ulat dan kupu-kupu tidak bertelur di pohon itu, tetapi pergi mencari pohon yang lain.”

“Sistem pertahanan yang luar biasa!” kata Karim, terkesan.

“Ya, Karim,” Kakek Hassan mengambil kesimpulan: “Allah-lah dengan pengetahuan-Nya yang tertinggi Yang telah mengajarkan pohon ini bagaimana melindungi dirinya. Jangan pernah lupakan itu, ya?”


KAKEK USMAN DAN CUCU LAKI-LAKINYA

Segera setelah Idris pulang dari sekolah, dia berlari menuju kakeknya dan menanyakan sesuatu yang ada di pikirannya.

“Kakek,” katanya, “Idris ingin menanyakan sesuatu.”

“Apa itu, Idris?” tanya Kakek Usman.

“Kakek, di dalam bis, seorang kakak perempuan menyampaikan kepada temannya betapa pentingnya kesabaran, dan bagaimana kesabaran yang sejati seharusnya sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an. Dapatkah Kakek ceritakan kepada Idris apa artinya itu?”

Kakek Usman mengangguk: “Sebagian besar orang tidak mengetahui apakah kesabaran yang sejati itu, dan bagaimana orang yang sabar harus berperilaku. Sebagian orang berpikir bahwa kesabaran hanya berarti menghadapi kesulitan dan keputusasaan dalam kehidupan dan menerima itu semua dengan sabar. Tetapi Allah mengajarkan dalam Al Qur’an bahwa kesabaran sejati sangatlah berbeda dengan pasrah atas suatu keadaan.”

Idris menanyakan pertanyaan lain: “Jadi, Kakek, apakah sumber dari kesabaran tersebut dalam Al Qur’an?”

“Kamu tahu, Idris,” jawab kakeknya, “bahwa jalan untuk meraih pertolongan, kasih sayang dan kesenangan dari Allah adalah dengan sepenuhnya mematuhi hukum dan perintah-Nya di dalam Al Qur’an. Allah menginginkan hamba-hamba-Nya untuk melaksanankan nilai moral dari Al Qur’an sepenuhnya sampai akhir hidup mereka.. Dan rahasia yang membuat mereka mampu untuk mematuhi perintah ini, mungkin datang, dari kesabaran sempurna yang berasal dari iman. Seseorang yang mempelajari arti kesabaran yang sebenarnya dapat bertingkah laku di jalan yang diinginkan Allah darinya dan teratur dalam shalatnya. Orang beriman mengetahui bahwa pengetahuan dan kebijaksanaan Allah ada dalam setiap hal, tidak ada yang terjadi tanpa izin-Nya dan bahwa dalam setiap kejadian terdapat tujuan dan segala hal baik yang tak terhitung yang telah Dia ciptakan.”

“Pada hal itu, seseorang tidak boleh marah atas kejadian yang menimpanya, namun harus bersabar,” kata Idris.

Kakek Usman tersenyum: “Tepat sekali, Allah adalah teman, pelindung dan penolong orang beriman. Jadi, walaupun tidak terlihat seperti itu pada awalnya, semua hal yang terjadi pada kita adalah untuk kebaikan kita sendiri. Untuk itu, bagi orang beriman, menjadi sabar bukan berarti terpaksa mengikuti perintah moral; sebaliknya, itu adalah perbuatan ibadah yang dilaksanakannya dengan gembira dan kesenangan yang tulus. Orang beriman mengetahui bahwa apa pun yang terjadi pada mereka telah diciptakan oleh Allah dan kebaikan akan muncul darinya. Karena mereka tahu bahwa Allah telah menetapkan takdir terbaik untuk mereka, mereka menghadapi semua kejadian dengan kebahagiaan yang sangat besar dan kepuasan di dalam diri sendiri. Dalam Al Qur’an, Allah berfirman:

(yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya. (QS. al-‘Ankabut, 29:59)

“Dalam hal itu, kesabaran orang beriman tidak akan habis!” seru Idris dengan semangat. “Sekarang Idris mengerti apa yang kakak perempuan di dalam bis itu katakan.”

Kakek Usman menjawab: “Benar, anakku. Manusia menunjukkan kesabran karena itu merupakan perintah dari Allah, dan mereka tidak akan pernah dalam keadaan di mana mereka kehilangan kesabaran. Sepanjang hidup mereka, mereka melakukan perbuatan ibadah ini dengan gembira dan semangat.”

“Terima Kasih, Kakek,” kata Idris. “Sekarang Idris mengerti bahwa kesabaran sangatlah penting, dan, jika Allah menghendakinya, kesabaran seseorang tidak akan pernah habis.”


KELAS KITA

“Selamat pagi, anak-anak,” kata Pak Guru di senin pagi.

“Selamat pagi, Pak,” jawab para murid.

“Bagaimana liburan kalian?” tanyanya.

“Sangat baik, Pak. Kami melempar banyak bola salju dan membuat boneka salju!”

“Jadi, kalian menikmati turunnya salju selama akhir pekan, ya” dia tersenyum pada anak-anak.

“Iya, Pak Guru, kami bersenang-senang,” mereka menjawab.

Pak Guru melihat ke sekeliling kelas dan mengernyitkan kening. “Bapak lihat ada dua orang murid yang tidak datang ke sekolah hari ini.”

“Benar, Salim dan Aisya tidak hadir hari ini.”

“Kalian tahu mengapa?”

“Mereka ada di rumah, Pak,” kata anak-anak. “Mereka pasti sedang sakit.”

“Itu artinya mereka pasti bermain di salju terlalu lama,” kata Pak Guru.

“Kami bermain di salju juga; akankah kami jatuh sakit, pak guru?” tanya anak-anak, waspada.

“Jika kalian tidak berhati-hati dan berada di luar bersama salju terlalu lama, kalian mungkin akan sakit.”

“Mengapa salju membuat orang sakit? Kami senang saat salju turun. Dan kami senang bermain di salju.”

Pak Guru menjelaskan: “Penyebab orang sakit adalah masuknya kuman ke dalam tubuh mereka. Seperti kalian ketahui, kuman adalah organisme yang tidak terlihat. Kuman masuk ke dalam tubuh kita dan mencoba membuat kerusakan. Bila kita tidak hati-hati akan kebersihan kita, dan makan tanpa mencuci tangan, kuman dapat masuk ke dalam tubuh kita dan menetap di dalamnya.”

“Apakah kita langsung sakit begitu kuma masuk ke dalam tubuh kita, Pak?” murid-murid ingin tahu.

“Tidak,” jawabnya. “Kita tidak selalu sakit. Saat Allah menciptakan kita, Dia memberikan tubuh kita sistem kekebalan yang menakjubkan untuk melawan kuman. Kita tidak menyadarinya, namun unsur sistem kekebalan ini melindungi tubuh kita layaknya sebuah pasukan. Setiap unsur dari sistem kekebalan yang sangat rumit ini melakukan tugasnya dengan sempurna.”

“Jadi, Pak, kenapa kita jatuh sakit? Apakah karena sistem kekebalan kita tidak melakukan tugasnya?”

“Tidak, pada orang yang normal, sistem kekebalan senantiasa bekerja. Tanpa pengetahuan kita, sistem kekebalan kita terlibat dalam peperangan besar melawan kuman. Pertama-tama, sistem kekebalan mencoba untuk mencegah kuman masuk dan tinggal di tubuh kita. Jika kuman berhasil masuk ke dalam tubuh kita, sistem kekebalan akan menghancurkannya dengan segera.”

“Jadi kenapa kita jatuh sakit?” mereka masih ingin tahu.

“Kalau kita berada di luar dalam keadaan dingin terlalu lama,” dia menjelaskan, “Dan jika kita tidak hati-hati saat kita makan, tubuh kita kehilangan kekuatan. Saat ini terjadi, sistem kekebalan kita menjadi lemah juga. Kuman yang belum dihancurkan berkembang biak dan menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh kita.”

“Jadi, saat ini terjadi, apakah kuman mengambil alih seluruh tubuh kita?” mereka bertanya.

“Tidak.” dia melanjutkan. “Pada saat itu, sistem kekebalan kita memulai peperangan yang bahkan lebih besar lagi melawan kuman. Karena perang besar yang terjadi dalam tubuh kita ini, kita mengalami demam, kita merasa kehilangan daya dan persendian kita mulai sakit.”

Para murid mengangguk. “Ya. Saat itu terjadi, kita harus berbaring di tempat tidur.”

“Tentu saja, saat itu terjadi, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah beristiraha. Kalau kita dapat istirahat yang banyak dan minum obat pada waktu yang bersamaan, dan kalau kita memakan semua makanan kita, sistem kekebalan kita akan bertambah kuat dan membantu kita. Jadi, pada waktu singkat sistem kekebalan akan mengalahkan kuman dan melempar mereka keluar dari tubuh kita. Dengan cara ini, kita menjadi sehat kembali.”

“Sekarang kami mengerti mengapa kami sakit,” murid-murid berkata padanya. “Mulai saat ini, kami akan sangat berhati-hati.”

“Benar” Pak Guru berkata: “Allah memberikan kita nikmat yang sangat besar saat Dia menciptakan tubuh kita dan dengan sistem pertahanan semacam itu di dalamnya. Kita harus sangat berterima kasih kepada-Nya atas itu, dan menjaga diri kita sendiri agar kita tidak kehilangan kesehatan yang Dia berikan kepada kita.”


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s