Anak Pemarah, Semua Serba Salah

Pada usia tertentu, anak sering marah adalah wajar. Namun, bila melewati masa-masa itu anak masih tetap sering marah, bahkan disertai kekerasan fisik, seperti memukul, melempar, menendang dan sebagainya, orangtua tak bisa lagi tinggal diam.

Karena keinginannya tak dituruti, Rian (5 tahun) menangis sambil mengamuk. Ia menendang-nendang dan memukul ibunya yang berusaha menenangkan. Walau begitu, sang ibu tetap sabar, memeluk dan membujuk anaknya dengan suara lembut. Sungguh tak mudah, apalagi mereka saat itu berada di tempat umum.

Pemandangan seperti itu mungkin pernah kita temui dalam keseharian; anak yang mengamuk, entah anak kita sendiri atau anak-anak lainnya. Tak hanya menangis dan menjerit-jerit, kadang kemarahan anak-anak ini disertai kata-kata kasar, membanting atau melempar benda-benda yang ada di sekitarnya. Tak jarang juga memukul dan menendang orang. Bujukan dan kata-kata lembut untuk menenangkan, tidak mempan. Banyak orangtua yang kehabisan akal dalam menghadapi perilaku anak ini, bahkan tak jarang ikut terbawa emosi dan jadi ikut-ikutan marah. Semua jadi kacau dan tak terkendali.

Marah yang wajar dan tidak wajar

Pada rentang usia tertentu, kemarahan yang tiba-tiba memang biasa dan wajar saja dialami oleh anak. Mereka bisa marah karena sebab apa pun, bahkan yang menurut orangtua sebab-sebab remeh. Kemarahan yang seperti ini diberi istilah temper tantrum atau tantrum saja. Masa-masa anak mengalami temper tantrum biasanya pada usia 2 – 5 tahun atau masa-masa prasekolah.

“Pada usia ini,” jelas Devi Ayutya Wardhani, M.Psi, psikolog anak di Optima Psychology, “perkembangan bahasanya memang masih terbatas, sehingga saat ia mengalami emosi ia belum paham bagaimana cara mengekspresikannya. Dia merasa tak nyaman, misalnya ketika mainannya direbut adik atau kakaknya. Dia ingin mengekspresikan ketidaknyamanan emosinya, yah akhirnya ia membentak, berguling-guling, menangis sebagai ekspresi emosi dia.” Dengan bertingkah seperti itu si anak berharap orang di sekitarnya tahu kalau ia sedang marah.

Ada dua jenis ekspresi kemarahan, lanjut Devi yang juga menjadi konsultan di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia. Pertama, reaksi marah yang impulsif atau agresif, seperti perilaku menendang, melempar dan berguling-guling. Kedua, reaksi marah yang terhambat. Anak dengan reaksi kemarahan yang terhambat, pada saat dia marah dia akan cenderung menarik diri dan menghindari orang yang menyebabkan dia marah.

“Kalau anak kecil itu justru yang sehat adalah kemarahan yang keluar tadi. Kalau pada saat dia marah, dia malah menarik diri, diam, orang tak akan tahu apa yang dia rasakan. Dalam kondisi seperti itu, justru harus dicari penyebab kenapa anak ini tak bisa mengekspresikan emosinya. Apa kira-kira yang menghambat dia. Karena normalnya anak-anak itu adalah makhluk yang paling jujur dan spontan, hingga apa yang ada dalam pikirannya langsung dikeluarkan,” terang ibu 3 anak ini.

Ketika usianya sudah lebih besar atau pada usia 6 tahun ke atas  semestinya kemarahan yang meledak-ledak seperti itu tidak terjadi lagi. Sebab, pada usia-usia tersebut perkembangan bahasa anak sudah semakin meningkat. Mereka sebenarnya sudah dapat mengekspresikan kemarahan dengan cara yang lebih positif, seperti penggunaan kata-kata yang lebih terarah, misalnya dengan kata-kata aku marah adik mengambil mainanku. Tanpa tangisan dan jeritan, orangtua atau orang lain di sekitarnya tahu si anak sedang marah. “Nah, kalau sudah sekolah atau usia 6 tahun ke atas, si anak marahnya masih guling-guling dan lempar-lempar barang, itu sudah tidak normal lagi,” kata Devi, yang menyelesaikan S2 Psikologi dengan kekhususan klinis anak di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 2007 ini.

Bila setelah usia 6 tahun si anak masih gampang marah dengan cara kekerasan tadi, ada kemungkinan ia melihat dan mencontoh perilaku itu dari orang terdekatnya. Misalnya, tambah Devi, anak melihat bila ayah dan ibunya marah mereka berteriak-teriak atau barang-barang di rumah “beterbangan”, maka si anak akan belajar bahwa memang begitulah caranya mengekspresikan kemarahan. Tak ayal, mereka pun akan menirunya.

Orangtua pemarah, anak jadi pemarah?

Anak yang gampang atau sering marah acap dikaitkan dengan sifat orangtuanya. Orang menganggap anak yang pemarah bisa jadi karena orangtuanya juga pemarah. Devi mengakui bahwa faktor keturunan juga memengaruhi anak untuk bersifat pemarah, entah dari pihak ibu atau pihak ayah. Anak dapat mewarisi sifat temperamental, gampang marah dan gampang tersinggung dari kedua orangtuanya.

Faktor lingkungan juga tak kalah besarnya dalam memberi pengaruh pada anak. Bahkan, kata Devi, faktor lingkungan inilah yang memberi andil lebih besar bagi anak untuk menjadi pemarah dibanding faktor keturunan. Selain mencontoh dari perilaku orangtua yang kalau marah meledak-ledak tadi, anak-anak juga bisa terpengaruh dari lingkungan di luar keluarganya.  Entah dari pengasuh, teman atau dari tontonan yang dilihatnya. Mereka tak akan bisa meluapkan kemarahan dengan kata-kata kasar dan kotor, melempar, menendang, memukul, membanting dan sebagainya bila anak tidak pernah mendengar kata-kata itu dari lingkungannya. Dengan kata lain, mereka pasti pernah melihat atau mendengar ekspresi marah yang demikian entah dari mana sebelum kemudian mencontohnya.

Pola asuh yang salah juga bisa membentuk anak jadi pemarah. Contohnya, ketika anak mengalami masa temper tantrum orangtua selalu mengatasi tantrumnya dengan menuruti segala keinginan anak. Saat anak marah dan menangis ingin dibelikan ini itu, apalagi disertai aksi guling-gulingan di tempat umum, orangtua lantas saja menuruti keinginan anak agar tangisnya cepat berhenti. Ketika besoknya anak menangis lagi dan orangtua menurutinya lagi, maka anak akan merasa dengan kemarahan dan “aksi” yang ditunjukkannya ternyata menguntungkan baginya. “Berarti perilaku anak yang demikian dikuatkan terus oleh orangtua,” kata Devi. Bisa dibayangkan bahwa selanjutnya anak akan terus menggunakan kemarahannya untuk mendapatkan semua yang diinginkannya.

Lagi-lagi orangtua harus mampu bersikap konsisten. Bila sekali bilang ‘tidak boleh’, seterusnya harus bilang ‘tidak boleh’. Jangan terperangkap kemarahan dan tangisan anak hingga akhirnya menuruti keinginan anak, walaupun yang diinginkan anak itu semula dilarang orangtua. Kalau orangtua tak konsisten, anak akan bingung, sebenarnya hal itu boleh atau tidak.

Tak jarang terjadi anak yang semula amat manis tiba-tiba menjadi pemarah. Orangtua harus jeli dalam mencari pemicu kemarahan anak tersebut. Bisa jadi si anak sering marah lantaran cemburu karena ia menganggap orangtua lebih memerhatikan adik baru, misalnya. Dengan luapan kemarahan tersebut ia berharap kembali mendapat perhatian dari orangtuanya. Pada kasus kemarahan seperti ini orangtua harus bisa membuktikan bahwa kasih sayang mereka tetap tercurah buat anak itu walau kini ia telah punya adik.

Menangani kemarahan anak

Perilaku anak yang gampang marah ini, apalagi bila telah melewati masa temper tantrum, tentu tak bisa dibiarkan. Orang-orang di sekeliling anak tentu tak merasa nyaman dengan sikap ini. Tak ada perilaku yang tidak bisa diubah. Bahkan walaupun merupakan keturunan, sifat pemarah tetap bisa diarahkan kepada perilaku yang lebih baik. Devi memberi beberapa poin penting yang mesti diperhatikan orangtua dalam menangani sifat pemarah anak.

Pertama, berikan contoh bagaimana menyalurkan kemarahan dengan cara yang positif. “Apa yang dilihat dan didengar anak setiap hari, itulah yang diserap dan diterapkannya. Kalau mau anak ini berubah, ya suasana di rumahnya juga harus berubah. Sebisa mungkin anak dijauhkan dari lingkungan yang negatif sehingga mereka punya model yang bagus untuk perilaku mereka,” saran wanita kelahiran Jakarta, 29 tahun silam ini.

Kedua, binalah selalu komunikasi yang baik dengan anak. Dengan komunikasi yang lancar dalam kondisi apapun anak tetap bisa mengungkapkan perasaan dan emosinya kepada orangtua, walaupun yang ingin diungkapkannya adalah kemarahan. Dalam suasana ini pula anak bisa dengan mudah diajak untuk belajar mengelola amarahnya dengan cara yang lebih baik, tidak meledak-ledak dan melemparkan barang. Selain mengelola amarah, ajarkan anak untuk memecahkan masalahnya tersebut.

Ketiga, menahan diri agar jangan ikut terpancing marah. Menghadapi anak yang sedang marah, bisa memancing kemarahan orangtua juga. Sebaiknya, saat anak marah, bila memungkinkan, biarkan sejenak sementara kita juga menenangkan diri dahulu. Jangan sampai orangtua menangani anak yang sedang marah dengan kemarahan juga, bahkan mungkin disertai kekerasan fisik. “Kalau di dalam Islam kita kan dianjurkan untuk berwudhu ketika marah,” kata Devi. Setelah diri tenang, barulah orangtua bisa menghadapi kemarahan anak dengan kepala dingin.

Memang tidak mudah menghadapi anak yang gampang dan sering marah. Kesabaran dan konsistensi adalah kuncinya.

Asmawati/wawancara Rosita

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s