Mengasuh Balita dengan Teknik Hypnoparenting

Hypnoparenting adalah teknik hypnotherapy (terapi dengan hipnosis) yang secara khusus diterapkan oleh orang tua dalam mengasuh anak.

Secara garis besar, teknik ini bermanfaat meningkatkan kualitas komunikasi dan kecerdasan spiritual orang tua dan anak. Bekerja langsung pada alam bawah sadar anak, membuat orang tua dapat menerapkan pola asuh tanpa paksaan. Sejak zaman dahulu teknik ini sudah banyak digunakan sebagai “alat bantu” pengasuhan anak, namun belum dikenal dengan nama hypnoparenting.

Prinsip utama hypnoparenting adalah mengucapkan kata-kata sugestif berulang-ulang kepada anak ketika otak anak sedang berada dalam gelombang Alpha (8 – 12 Hz). Ketika anak dalam kondisi relaks atau istirahat (mengantuk dan mata mulai tertutup) itulah kondisi otak anak dalam gelombang Alpha. Ketika otak bekerja dalam gelombang Beta (12 – 19 Hz), otak berada dalam keadaan waspada (alert), sedangkan dalam keadaan tidur lelap otak berada di gelombang Theta (4 – 8 Hz).

Kalimat-kalimat yang mengarahkan perilaku positif anak dapat Anda bisikkan di telinga anak ketika anak sedang beralih dari kondisi waspada ke kondisi mengantuk dan tertutup matanya. Kalimat afirmatif positif (maupun negatif) menjadi sugesti akan masuk dan “direkam” alam bawah sadar ketika disampaikan ketika anak dalam fase tersebut. Oleh karena itu, para ahli hipnosis akan melatih orang tua memformulasikan kalimat dengan tepat agar “program” yang disampaikan pada anak tepat.

Dari dua pernyataan berikut, salah satu bukan kalimat sugestif yang patut didengar anak tetapi tanpa sengaja lontarkan dilontarkan orang tua:

  • “Bunga, kamu selalu berantakan. Coba atur kamar kamu supaya tidak berantakan begini. Tiap hari pasti berantakan…” Karena setiap hari ibunya berkata demikian, Bunga tumbuh menjadi anak yang tidak rapi, selalu berantakan.
  • “Anak mama anak yang pandai kok, kamu pasti bisa dan pantang menyerah ya…” Sekalipun balita gagal dalam melakukan suatu hal, seperti tugas sekolahnya, kata-kata positif seperti ini justru membuatnya menjadi anak yang pandai dan pantang menyerah. Ia akan tumbuh dengan rasa percaya diri.

Hindari:

  • Menyusun kalimat afirmatif yang mengandung kata “tidak”, “jangan”, “tanpa” dan kata-kata yang bermakna negasi. Alam bawah sadar hanya dapat “memahami” kata-kata dasar. Misalnya, Anda mengatakan, “Jangan nakal, ya!”, yang terekam di alam bawah sadar justru kata “nakal”. Jadi, sebaiknya diubah, “Jadilah anak pintar!”.
  • Menyampaikan sugesti dalam kondisi marah atau emosi yang sedang tidak stabil. Redakan kemarahan atau rasa ingin tergesa-gesa dengan mengatur nafas.

Manfaat:

  • Meningkatkan kecerdasan spiritual atau SQ (Spiritual Quotient) anak.
  • Meningkatkan kualitas komunikasi, baik secara verbal maupun non-verbal (karena ikatan batin anak-orang tua sangat erat).
  • Mengarahkan proses tumbuh kembang anak.
  • Mempersiapkan generasi sehat, cerdas dan kreatif.
  • Membantu anak yang sakit jadi lebih tenang, merasa aman terlindung sehingga kualitas tidur lebih baik dan daya tahan tubuh meningkat.
  • Membantu orang tua lebih paham kepribadian anak.
  • Membimbing orang tua menjadi bijaksana dan peka secara spiritual dalam mendidik dan mengasuh anak.
  • Mengarahkan orang tua selalu menjadi pribadi positif.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s