Tips-tips Mendidik Anak

Tips Mendisiplinkan Balita (Wajib Baca bagi Kaum Ibu)

SALAH satu tugas tersulit menjadi orangtua, –terutama ibu– adalah mendisiplinkan anak-anak di bawah lima tahun (balita). Kata “disiplin” berasal dari Bahasa Latin berarti mengajarkan atau memberi pelajaran. Ketika Anda mendisiplinkan anak balita Anda, maka itu berarti Anda mengajarkan mereka bagaimana berkelakuan baik dan bertindak secara aman.

Karena anak-anak tidak secara otomatis mengetahui bagaimana caranya bertindak secara aman dan berkelakuan baik. Maka tugas Anda sebagai orangtua, sebagaimana dilansir situs kesehatan www.orato.com, adalah menetapkan batasan-batasan tegas dan membantu anak-anak Anda untuk belajar bagaimana menjaga semua batasan tersebut. Sebelum peraturan-peraturan diterapkan, anak-anak harus senantiasa diingatkan berulang-ulang secara lemah lembut.

Mendisiplinkan Sejak Dini Berarti Membuat Balita Merasa Aman

Ketika anak-anak mulai berjalan dan bergerak keliling, Anda harus mengajarkannya tentang kata “tidak”, ketika mereka mencoba untuk menyentuh sesuatu yang panas, tajam, atau benda kecil yang mudah tertelan. Anda mesti mengingatkan secara berulang-ulang, karena dia belum mampu untuk mengingat larangan tersebut. Bahkan jika beberapa detik sebelumnya Anda berkata “tidak”, maka dia akan cepat melupakannya. Atau bahkan jika dirinya terluka akibat benda-benda tajam, maka dia tetap akan mendekati benda tajam itu, karena ingatannya belumlah sempurna.

Pada masa-masa awal, Anda bisa saja mengalihkan perhatiannya terhadap benda-benda berbahaya itu dengan mainan lainnya yang lebih aman untuknya. Setelah dia menginjak usia 14-15 bulan, tindakan pengalihan akan lebih sulit. Kendati demikian, Anda harus tetap mengupayakan pendekatan-pendekatan persuasif yang positif.

…Mulailah dengan beberapa peraturan yang berkenaan dengan keamanan balita Anda, sesuai dengan pertumbuhan usianya…

Beberapa Tips Disiplin Penting:

1. Mulailah dengan beberapa peraturan yang berkenaan dengan keamanan balita Anda. Setiap kali pertumbuhannya semakin meningkat dan semakin mengerti, maka Anda bisa menambah beberapa peraturan baru. Namun demikian, jika Anda memiliki banyak peraturan, maka Anda tidak akan bisa memaksakan semua peraturan itu secara konsisten, dan sang anak akan menjadi bingung.

2. Berpikir positif! Katakanlah apa yang Anda inginkan untuk dilakukan anak Anda dengan bahasa yang jelas dan sederhana. Jika Anda hanya memberitahunya apa-apa yang tidak boleh dilakukan, kemungkinan dia tidak akan mengerti maksud Anda. Dalam artian, anak Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah Anda melarang sesuatu kepadanya. Dengan demikian –sebagai contoh– katakan kepadanya, “Duduklah di kursimu,” sebagai ganti perkataan, “Jangan berdiri di situ.” Atau katakan, “Berjalanlah perlahan-lahan,” sebagai ganti ucapan, “Jangan berlari.” Atau katakan, “Berkatalah dengan suara pelan,” sebagai ganti perkataan, “Jangan berteriak.”

3. Harus konsisten! Pertahankan peraturan-peraturan yang sama dari hari ke hari. Jangan mengubah sejumlah peraturan hanya karena Anda sedang dalam mood yang baik atau karena Anda sedang merayakan hari istimewa. Peraturan harus tetap ada untuk menjaga anak Anda senantiasa aman, dan hal itu tak bisa diubah-ubah.

…Peraturan bukan hanya merefleksikan kepribadian para orangtua, tapi juga demi kebaikan anak-anak…

4. Pastikan bahwa semua orang dewasa yang hidup bersamaan dengan anak Anda juga mengetahui berbagai peraturan itu, dan paksa juga mereka untuk menghormatinya. Peraturan bukan hanya merefleksikan kepribadian-kepribadian para orangtua, tapi juga demi kebaikan anak-anak. Komunikasi di antara orangtua –dengan melepaskan ‘bagasi-bagasi’ emosional mereka– sanga penting dalam kaitannya mendisiplinkan balita. Selain itu, penting juga bagi orangtua untuk mendiskusikan peraturan-peraturan itu dengan babysitter (penjaga anak-anak) atau pembantu.

5. Cara berteriak untuk mencegah tindakan anak jarang sekali berhasil. Bahkan jika cara berteriak itu berhasil di awal, maka anak-anak akan mengabaikannya berulang kali pada masa selanjutnya. Anak Anda tidak akan mendengarkan kandungan perkataan Anda, jika Anda berteriak kepada mereka.

Pencegahan adalah Strategi Terbaik

Semakin baik pengetahuan Anda terhadap anak-anak Anda, maka semakin baik pula antisipasi yang Anda lakoni dalam berbagai situasi yang melibatkan mereka dalam masalah. Anak-anak Anda akan diam dan tenang jika mereka:

  • kelelahan
  • lapar
  • terlalu bersemangat dan bergairah
  • frustrasi karena terlalu banyak pilihan
  • tidak diperkenankan sama sekali untuk memilih pilihan apa pun
  • jadwalnya (apapun) berubah
  • berada di lingkungan yang tidak familiar
  • ditunjukkan media-media atau benda-benda yang tidak cocok untuk usia mereka
  • tidak memiliki waktu yang cukup bersama ayah dan ibu

…Bersikap tidak terlalu ketat dan juga tidak membiasakan hidup permisif, maka hal tersebut akan sangat membantu anak-anak merasa aman, nyaman, dicintai …

Semua orangtua pasti mencintai anak-anak mereka dan selalu menginginkan yang terbaik untuk mereka. tak diragukan lagi, Anda sebagai ibu memiliki peran penting dan signifikan terhadap perkembangan anak-anak Anda. Jika Anda bisa menghindari ‘perebutan kekuasaan’ dan mencegah kelakuan buruk mereka sebelum terjadi, maka Anda bisa memelihara hubungan baik dengan anak-anak. Dan di waktu yang sama, Anda akan dengan mudah mengajarkan mereka berbagai life skill (ketrampilan hidup).

Bersikap tidak terlalu ketat dan juga tidak membiasakan hidup permisif, maka hal tersebut akan sangat membantu anak-anak merasa aman, nyaman, dicintai. Karena mereka menyadari bahwa orangtua mereka mengizinkan mereka untuk mengekspresikan diri dengan batasan-batasan yang aman. [ganna pryadha/voa-islam.com]

Mengatasi Rivalitas Sesama Saudara Kandung

SEBELUM mempunyai anak, para orangtua pastinya memiliki gambaran indah mengenai bagaimana keluarga mereka nantinya. Para orangtua berpikir akan memiliki anak-anak berperangai baik, berbahagia, mencintai orangtua mereka, mengerjakan setiap tugas mereka, serta menghabiskan waktu berjam-jam penuh canda tawa dan bermain bersama.

Namun ketika para orangtua merasakan kehidupan nyata sebagai orangtua, mereka merasakan shock menghadapi realita interaksi anak-anak mereka satu sama lainnya. Angan-angan tentang memiliki anak-anak yang akur satu sama lainnya ternyata jauh dari harapan.

…Tak jarang anak-anak justru bertengkar karena hal-hal sepele, selalu bersaing untuk mendapatkan bagian terbaik dan terbesar dari segala sesuatu…

Tak jarang anak-anak justru bertengkar karena hal-hal sepele, selalu bersaing untuk mendapatkan bagian terbaik dan terbesar dari segala sesuatu; baik makanan, uang jajan, pakaian, dan lain sebagainya. Padahal orangtua mereka selalu menjadikan seluruh bagian anak-anaknya secara adil dan sama serta memastikan bahwa setiap anak mendapatkan pilihan yang baik. Intinya, sebagaimana dilansir dalam situs gaya hidup http://www.orato.com, interaksi anak-anak kerap diwarnai oleh rivalitas saudara kandung tak bertepi, yang terkadang rivalitas tersebut begitu destruktif dan membuat repot orangtua.

Sumber Rivalitas

Mengapa anak-anak Anda berkelakuan dengan cara yang keterlaluan dan tidak masuk akal? Daripada mengeluh dan berkeluh-kesah atas tingkah laku anak-anak, ada baiknya orangtua –terutama ibu— mempelajari beberapa prinsip penting tentang kasih sayang. Harap diingat bahwa orangtua adalah sosok paling penting di dunia bagi anak-anaknya. Ini merupakan fakta yang tak terbantahkan, bahkan jika anak Anda tidak mengekspresikan fakta tersebut dan bahkan apabila dia pada zhahirnya selalu menampakkan permusuhan terus-menerus.

Berbagi cinta dan perhatian orangtua dengan anak-anak terkadang mampu menghancurkan kekerasan hati anak-anak dan juga membuat mereka tidak nyaman serta gelisah. Namun perasaan gelisah dan ketidaknyamanan tersebut bukanlah kesadaran rasional alamiah di dalam diri anak-anak. Dan Anda, terkadang bisa terkejut karena mengetahui bahwa anak-anak Anda ternyata meragukan kedalaman cinta Anda untuk mereka, atau mereka merasa bahwa Anda tidak memperhatikan mereka.

Perbedaan Temperamen Anak-anak Bisa Memicu Konflik

Faktor lain yang mendorong anak-anak Anda tidak bisa bergaul akrab satu sama lainnya adalah berkaitan dengan temperamen individual mereka yang tidak dalam kondisi baik. Ini mengingat –contohnya— bagi anak-anak yang super aktif, mereka begitu sulit untuk memahami mengapa saudara kandung mereka bisa duduk tenang, asyik membaca, atau anteng bermain sendirian.

Sementara Gill Hines, seorang konsultan pendidikan menyatakan bahwa pertengkaran antar saudara kandung biasanya disebabkan berbagai faktor emosi. “Biasanya disebabkan oleh berbagai faktor seperti kecemburuan, kebencian satu sama lain atau daya saing saat berada di rumah,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Telegraph, Jumat (12/2/2010).

Penyebab pertengkaran ini bisa karena kakak yang merasa lebih berkuasa dan berhak untuk mengatur kendali, atau si adik yang terlalu sensitif dan manja. Namun ada juga yang disebabkan salah satu merasa tidak adil dalam mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya.

…Penyebab pertengkaran kakak dengan si adik bisa juga yang disebabkan salah satu merasa tidak adil dalam mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya…

“Akibatnya salah satu merasa terabaikan dan bisa memicu timbulnya percekcokan antar kakak beradik. Orangtua seharusnya bisa memisahkan keduanya, tapi tentu saja tidak dengan cara menyalahkan salah satu atau memarahi dengan suara keras,” ujar Suzie Hayman, penulis Parenting Your Teenager.

Bagaimanapun, jika mereka belajar untuk mengapresiasi perbedaan di antara diri mereka, dan menghormati berbagai aspek positif dari perbedaan itu, maka mereka akan lebih mumpuni untuk bisa belajar bagaimana mengapresiasi perbedaan di antara manusia di dunia yang lebih luas.

Apa yang Bisa Dilakukan Orangtua?

Sebagai orang dewasa, orangtua –terutama ibu— harus bertanggungjawab untuk memastikan bahwa kasih sayangnya tercurah melimpah kepada setiap anak. Ibu mesti ‘memperbarui’ kontaknya dengan setiap anak sesering mungkin sepanjang hari, satu demi satu, melalui kontak mata yang jernih dan suara yang bersahabat. Ibu harus menyediakan waktu untuk benar-benar mendengar dan memperhatikan perkataan anak-anak mereka. Karena apabila anak-anak merasa bahwa orangtua mereka tidak mendengar apa yang mereka katakan, maka mereka akan bertindak acuh dan mencari-cari perhatian dengan membuat ‘kekacauan’; salah satunya adalah dengan mengusik saudara kandung mereka.

Cinta di antara Saudara Laki-laki dan Perempuan

Ketika rivalitas di antara saudara kandung telah sampai pada level merisaukan, sejatinya di waktu yang bersamaan mereka telah siap untuk menjalin pertalian di antara mereka berdasarkan pertemanan dan cinta. Fakta bahwa mereka saling berbagi relasi cinta primer dengan sosok yang sama (Anda), dan mereka berdua merasa nyaman dalam relasi cinta tersebut, maka hal demikian membuat mereka merdeka untuk melihat saudara kandung mereka dalam perspektif yang positif.

..Ketika rivalitas sesama saudara kandung sampai pada level merisaukan, sejatinya mereka telah siap untuk menjalin pertalian mereka berdasarkan pertemanan dan cinta…

Namun, meski Anda telah berupaya memastikan anak-anak dekat dengan Anda dan meski perhatian individual telah tercurahkan kepada masing-masing anak, namun anak-anak tetap bercekcok dan bertengkar, maka tariklah nafas dalam-dalam; rileks dan tetap jaga selera humor Anda. Selama tindakan cekcok mereka tidak sampai pada tindakan yang bahaya dan mengancam jiwa salah seorang di antara mereka, maka Anda harus bersikap tenang, dan ambil tindakan persuasif yang menyentuh hati mereka.

Dan biasanya segenap pertikaian dan pertengkaran di antara saudara kandung merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan skill untuk bergaul akrab antara satu sama lainnya.

…Dalam pertikaian dan rivalitas itu, anak-anak Anda tampaknya sedang mempraktikkan cara bernegosiasi dan melakukan manuver dalam memberi dan menerima…

Dalam pertikaian dan rivalitas itu, anak-anak Anda tampaknya sedang mempraktikkan bagaimana cara bernegosiasi dan bagaimana caranya melakukan manuver dalam memberi dan menerima. Setelah tertempa interaksi dengan saudara kandung, tak heran jika kemudian mereka cenderung mudah akrab dengan orang lain. Hal demikian mendorong mereka untuk membangun kemampuan bersosial mereka. Terakhir, orangtua yang menghadapi antagonisme anak-anak dengan humor dan cara menyenangkan, maka hal ini secara tidak langsung memberi anak-anak pengetahuan mengenai bagaimana caranya membebaskan diri dari stres. So, enjoy aja! [ganna pryadha/voa-islam.com]

Menghindari Dampak Negatif Rasa Tidak Percaya Diri pada Anak

Jika kita ingin anak kita sukses, jangan biarkan anak kita mengidap rasa tidak percaya diri, karena sifat ini menjadi salah satu faktor kegagalan seseorang. Rasa tidak percaya diri memiliki banyak efek negatif bagi anak-anak, di antaranya:

1.  Anak-anak tidak bisa melakukan apa pun secara mandiri dan independen. Jika mereka diminta untuk membawa sesuatu dan mendapatkan bahwa sesuatu tersebut berbeda dengan deskripsi dan instruksi yang diberikan, maka mereka menjadi ragu-ragu. Jika kemudian mereka menghadapi masalah, maka mereka tidak bisa mengambil keputusan.

2.  Mereka menjadi pendek akal dan tidak kreatif.

3.  Mereka senantiasa mengeluh dan merasa tidak nyaman setiap kali diminta untuk melakukan sesuatu. Karena mereka akan berpikir bahwa apa pun yang mereka lakukan pasti salah dan tidak sesuai dengan instruksi yang diberikan.

… Karena mereka akan berpikir bahwa apa pun yang mereka lakukan pasti salah dan tidak sesuai dengan instruksi yang diberikan…

4.  Mereka tidak memiliki tekad kuat, tidak punya solusi, ‘lembek’, dan apatis di berbagai situasi, serta menjadi sembrono dan tidak teratur.

5.  Mereka akan mengalami kegelisahan dan frustrasi, memiliki sikap permusuhan atau tendensi untuk menjadi seorang introvert dan cenderung menarik diri.

Solusi bagi anak yang tidak percaya diri

Untuk menghindari efek-efek negatif seperti di atas, maka para orangtua harus menggunakan berbagai cara untuk mengembangkan kepercayaan diri anak-anak. Di antaranya adalah:

1.  Para orangtua harus membuat sejumlah petunjuk umum untuk diikuti, dengan jalan memberitahu mereka tentang hal-hal yang dibolehkan dan dilarang Allah untuk mereka. Dan mereka pun harus menyadari sifat-sifat mulia dan akhlak-akhlak terpuji, sehingga tertanam pada diri mereka kebencian terhadap perangai yang tercela. Setelah itu para orangtua bisa memberi kebebasan kepada mereka untuk bertindak berdasarkan inisiatif mereka.

… orang tua harus memberi mereka sejumlah tugas yang bisa mereka kerjakan. Jika mereka membuat sebuah kesalahan, maka orangtua harus melontarkan support dan pujian atas inisiatif mereka…

2.  Lalu orang tua harus memberi mereka sejumlah tugas yang bisa mereka kerjakan. Jika mereka membuat sebuah kesalahan, maka orangtua harus melontarkan support dan pujian atas inisiatif mereka, lantas memberitahu mereka apa yang seharusnya mereka lakukan. Dan orangtua juga harus memberikan pujian kepada anak-anak atas usaha yang mereka lakukan, lalu selesaikan pekerjaan dengan cara yang lemah lembut, tanpa memberitahu secara langsung. Apabila pekerjaan atau tugas itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan anak-anak, maka orangtua bisa mengambil alihnya dan meminta pendapat mereka. Biarkan mereka memutuskan apa yang menurut mereka baik dan tidak baik. Jadi anak-anak akan menyadari bahwa setiap orang berpotensi melakukan kesalahan, tapi juga bisa melakukan sesuatu dengan benar. Hal tersebut bisa meneguhkan ketetapan hati mereka.

3.  Adakalanya orangtua harus memuji anak-anak di hadapan kerabat dan teman-teman mereka, dan memberi mereka balasan yang sesuai dengan usaha mereka. orangtua bisa melontarkan pujian atas amalan-amalan ibadah yang dilakukan anak-anak, seperti shalat, menghafal Al-Qur’an, belajar yang baik, dan lain sebagainya.

4. Teguhkan kehendak anak-anak dengan membiasakan mereka terhadap dua hal:

– menjaga rahasia. Ketika anak-anak mengetahui bagaimana caranya menjaga rahasia, dan tidak membocorkannya, maka kehendak mereka akan semakin meningkat dan tumbuh kuat. Dan pastinya kepercayaan diri mereka pun akan bertambah tinggi.

– biasakan anak-anak untuk berpuasa. Ketika mereka menahan lapar dan haus semasa berpuasa, maka mereka akan merasakan nikmatnya meraih kemenangan melawan hawa nafsu. Perasaan tersebut akan memperkuat kehendak dan kemauan mereka ketika menghadapi hidup, dan tentunya akan menambah rasa percaya diri mereka.

… Perkuat rasa percaya diri anak-anak ketika mereka berurusan dengan orang lain, yaitu dengan jalan melibatkan mereka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah…

5. Perkuat rasa percaya diri anak-anak ketika mereka berurusan dengan orang lain, yaitu dengan jalan melibatkan mereka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah, menginstruksikan mereka agar mematuhi perintah-perintah orangtua, dan membiarkan mereka duduk bersama orang-orang dewasa dan teman-teman sejawat mereka.

6. Perkuat rasa percaya diri anak-anak dalam memperoleh pengetahuan dengan mengajarkan mereka Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW serta sirah beliau. Dengan demikian mereka akan tumbuh dengan dibekali pengetahuan melimpah. Hal tersebut akan memicu pesatnya kepercayaan diri mereka, karena memiliki prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan yang sebenarnya, jauh dari mitos dan legenda-legenda tidak jelas.

Selain semua itu, para orangtua harus mengambil tindakan pencegahan dan tindakan efektif untuk menyelamatkan anak-anak dari perasaan minder. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan perasaan minder pada anak-anak, di antaranya adalah menganggap remeh mereka, mempermalukan dan mengejek mereka dengan nama-nama yang menyakitkan hati di hadapan teman-teman mereka atau orang lain. Hal-hal tersebut membuat mereka merasa tidak bernilai dan berharga serta menyebabkan sejumlah persoalan psikologis yang membuat mereka memandang benci kepada orang lain, menarik diri dari pergaulan, dan merasa ingin lari dari kehidupan.

Tak hanya itu, bahkan penggunaan kata-kata menghina yang dilontarkan orangtua dengan maksud untuk mendisiplinkan anak-anak pun tidak diperbolehkan. Ini mengingat, metode tersebut malah menimbulkan efek buruk terhadap kejiwaan anak-anak, dan mengakrabkan mereka dengan bahasa-bahasa kasar serta hinaan. Jelas, hal demikian akan menghancurkan sisi moral dan psikologis mereka.

Dan yang terpenting, cara terbaik untuk mengatasi persoalan psikologis anak-anak adalah dengan menjelaskan kepada mereka hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan berdasarkan aturan syariat Islam. Ketika terjadi kesalahan yang dilakukan mereka, orangtua harus mengedepankan bukti sehingga membuat mereka mengakuinya, dan berjanji untuk tidak melakukan kesalahan lagi di masa mendatang.

…Membangun rasa percaya diri anak-anak merupakan langkah awal untuk membangun kepribadian dan karakter…

Demikian pula, penting sekali untuk menggunakan metode baik dalam memperbaiki kesalahan yang mereka lakukan. Membangun rasa percaya diri anak-anak merupakan langkah awal untuk membangun kepribadian dan karakter mereka di segenap fase kehidupan.

Agar si Buah Hati Menjadi Percaya Diri

Para pakar menilai, percaya diri adalah faktor penting yang menjadi penentu seseorang akan sukses atau gagal. Karenanya, para pakar psikologis banyak mengemukakan teknik-teknik membangkitkan rasa percaya diri. Rasa percaya diri tidak didapatkan begitu saja, melainkan ia harus diasah dan dipupuk sejak kecil.

Sejak usia dua tahun, anak mulai menentukan sikapnya terhadap lingkungan di sekelilingnya. Beberapa psikolog perkembangan berpendapat bahwa kepercayaan diri merupakan salah satu sense pertama yang masuk ke dalam penentuan-penentuan sikap tersebut. Kemudian kekuatan perasaan percaya diri yang mulai terbentuk pada usia tersebut sangat bergantung pada perhatian yang diterima sang anak dan sikap orangtua dalam memenuhi kebutuhannya.

Pada fase tersebut, anak menunjukkan sinyal-sinyal perkembangan dengan menampakkan hasrat independensinya; memiliki kebebasan berbicara, berjalan, dan bermain. Semua hal itu berhubungan dengan kebutuhan untuk menegaskan dirinya yang hanya bisa diwujudkan dengan memperkenankannya mengambil langkah-langkah independensi. Hal tersebut juga ditegaskan teori perkembangan yang menyatakan bahwa kita harus menghormati kepribadian anak-anak, membiarkan mereka untuk berkembang secara alamiah.

…Tak sedikit anak yang tumbuh dewasa tanpa memiliki kepercayaan diri yang tinggi, sehingga mereka tak mampu mengandalkan diri dalam urusan apa pun…

Tak sedikit anak-anak yang tumbuh dewasa dengan tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sehingga mereka tidak mampu mengandalkan diri mereka sendiri dalam urusan apa pun, baik yang besar maupun kecil. Mereka tidak bisa mengambil inisiatif dan selalu menunggu seseorang berkata, “Lakukanlah hal ini dan itu.” Jika menghadapi masalah, tak sedikit anak perempuan yang tidak mampu mengambil keputusan, cenderung menjauhi masalah, dan hanya bisa menangis. Bisa jadi hal demikian merupakan kesalahan para orangtua, disebabkan beberapa hal:

1.  Orangtua terlalu berlebihan dalam mengawasi dan membatasi, baik dalam persoalan besar maupun kecil; seringkali mengucapkan, “Jangan melakukan itu, jangan melakukan ini.” Sehingga anak kehilangan spontanitas dan kepercayaan diri dalam bertindak. Maka jangan heran jika kemudian dia lebih banyak menunggu seseorang untuk mengoreksinya dan menjamin bahwa dirinya melakukan hal yang tepat.

2.  Selalu menyalahkan dan mengkritisi apa pun yang dilakukan oleh anak-anak, mencari-cari kesalahan mereka, dan memarahinya jika melakukan kesalahan-kecil yang tidak berarti. Maksudnya, anak-anak lebih banyak dimarahi daripada diberi pujian atas berbagai usaha yang dilakukannya. Sikap demikian justru akan menghancurkan motivasi anak-anak untuk bertindak dan melakukan sesuatu yang baik.

3.  Tidak memberi kesempatan kepada anak-anak untuk berbicara di hadapan orang lain, ditakutkan mereka akan melakukan kesalahan atau berbicara tentang hal-hal yang tidak diinginkan. Termasuk juga apabila memperkenankan mereka untuk berbicara, setelah terlebih dulu memberitahu mereka apa-apa saja yang boleh dibicarakan.

4.  Selalu memberi peringatan kepada anak-anak tentang bahaya dari sesuatu hal, sehingga membuat mereka senantiasa membayangkan hal-hal buruk dan menyayangkan bahwa mereka dikelilingi segala marabahaya.

5.  Senantiasa menganggap remeh mereka dan membanding-bandingkan mereka dengan orang lain. Kedua hal tersebut membuat mereka berpikir bahwa mereka tidak bernilai sama sekali.

6.  Menjadikan mereka sebagai objek candaan, dan mengejek mereka.

7.  Tidak memperhatikan permintaan-permintaan mereka.

8.  Orangtua terlalu banyak memberi perhatian kepada mereka dengan sikap yang menunjukkan kekhawatiran tentang –misalnya– kesehatan, masa depan mereka, dan lain-lainnya. [ganna pryadha/voa-islam.com]

___________________________

Dilansir dari Tansyi`at Al-Fatat Al-Muslimah, karya Hanan ‘Atiyah Al-Juhani.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s