Air Masih Mengalir di Mars?

Badan Antariksa AS, NASA, menemukan bukti cukup meyakinkan bahwa air masih mengalir di permukaan Mars belum lama ini. Temuan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa planet merah memiliki wilayah-wilayah yang bisa mendukung kehidupan.

Bukti yang dimaksud adalah keberadaan selokan-selokan raksasa serupa jalur air yang diabadikan wahana ruang angkasa milik NASA. Selokan-selokan itu menjadi pertanda bahwa air barangkali pernah mengalir di sana dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut para peneliti, selokan dan parit-parit yang dilihat wahana Mars Global Surveyor (sebelum wahana tersebut putus hubungan dengan Bumi) itu masih cukup muda secara geologis. Diduga, bentuk-bentuk itu terjadi akibat aliran air deras yang menuruni tebing-tebing dan kemudian mengukir dinding kawah Mars.

Untuk meyakinkan temuan di atas, para ilmuwan dari Pusat Ilmu Pengetahuan Ruang Angkasa Malin, San Diego, bertekad untuk mengambil ulang ribuan foto selokan raksasa di Mars. Mereka berharap menemukan bukti-bukti aliran air yang lain.

Adapun foto selokan yang dimaksud, diambil pertama kali tahun 1999 dan 2001. Lokasi itu difoto lagi tahun 2004 dan 2005, dan terlihat adanya perubahan konsisten. Perubahan ini dianggap merupakan bukti adanya aliran air.

Pada foto-foto terakhir, para ilmuwan menemukan adanya endapan berwarna terang di dalam selokan, yang tidak terlihat di foto sebelumnya. Mereka menyimpulkan bahwa endapan tersebut –mungkin lumpur, garam, atau es– tertinggal ketika air mengalir melaluinya.

Meski dugaan mengenai keberadaan air itu merupakan temuan menarik, namun tidak semua ilmuwan memiliki pemikiran sama. Beberapa peneliti menyebut bahwa selokan-selokan baru itu bisa saja terbentuk oleh karbondioksida cair.

Alasannya, menurut model komputer mengenai lapisan Mars, air hanya bisa ditemukan pada kedalaman beberapa kilometer. Sedangkan karbondioksida cair bisa muncul di dekat permukaan di mana temperatur bisa turun hingga -107C.

Apapun penyebabnya, keberadaan selokan baru itu menunjukkan bahwa planet merah ternyata lebih aktif daripada dugaan sebelumnya, begitu dituliskan para peneliti di journal Science.



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s