Demokrasi Citra

sumber foto : sccs.swarthmore.edu

Paradigma kapitalisme tak pelak juga menginvasi kehidupan kontemporer sosial, ekonomi, politik dan budaya. Iklan-iklan dalam televisi merupakan fantasmagoria yang muncul dan menghilang dalam kecepatan tinggi yang merayu manusia dalam kegilaan histeria gaya hidup. Trend life stile dengan banalnya silih berganti cepat berubah yang menawarkan sebuah kebaruan.

Kapitalisme global terperangkap dalam arus percepatan (dromos) dimana kecepatan menjadi ciri kemajuan sehingga ia membentuk kemajuan-kemajuan dalam tempo tinggi. Percepatan tersebut berupa percepatan kembalinya modal, membiaknya kapital, dan larisnya konsumsi. Kecepatan kapital itu kini dikendalikan oleh kecepatan elektronik yang mendekati kecepatan cahaya, yaitu implosi dimana manusia bersama wahananya tidak lagi menjelajahi teritori dengan cara ekspansi, melainkan teritori-teritori yang telah dikuasai tadi justru meledak kedalam mengerumuni manusia layaknya sebuah magnet melalui simulasi elektronik. Manusia sekarang telah kelebihan informasi, dijajah produk, dihujami iklan-iklan, dibujuk rayu, konsumen yang statis, diam dan monoton membebek pada panoptikon. Sebuah iklan menjadi relatif dalam menjadikan konsumer demikian ‘addicted (terbius)’.

Era

Masyarakat konsumer ditandai dengan berubahnya status komoditas yang diiklankan. Bukan hanya sebuah produk yang menjamin suatu nilai guna/tukar (murni, dalam konsep Marx) akan tetapi status materi yang sekaligus menjanjikan/menawarkan nilai prestise, nilai sosial, nilai kultural atau keistimewaan lain sebuah produk bagi konsumer yang memilikinya. Berubahnya status materi ini ‘seolah’ mengiringi hasrat kebutuhan konsumer/masyarakat modern dalam menandai status sosial dan kultural individu modern. Saat ini kian tak terhitung, pelbagai iklan komersial dalam media elektronik, seperti TV dan internet, misalnya yang tidak henti-hentinya mengiklankan komoditas-komoditas.

Persoalannya, kadangkala bukan nilai fungsional komoditas yang sebagai substansi yang ditawarkan, namun iklan tersebut lebih mengekspresikan (mengutamakan) segi pencitraanya. Bahwa perilaku konsumtif tidak lain terkait dengan berubahnya status komoditi yang bagi Jean Boudrilard, kita – dikatakanya, tidak lagi mengontrol obyek, akan tetapi dikontrol oleh obyek-obyek. Kita hidup sesuai dengan iramanya, sesuai dengan siklus perputarannya yang tak pernah putus-putusnya (Boudrillard, 1998:29).

Masyarakat konsumer, justru objek-objek konsumerlah yang justru merefleksikan keberadaan subyek/individu modern. ‘Saya mengkomsumsi, karenanya saya ada’, dengan kata lain, bila saya telah memiliki suatu produk/jasa maka saya dikatakan ‘eksis’/ada. Komoditas atau dalam rumusan Boudrillard, seperti dikutip Yasraf adalah obyek yang membentuk perbedaan-perbedaan sosial dan menaturalisasikan melalui perbedaan-perbedaan pada tingkat semiotik atau pertandaan (Yasraf A.P,1998). ‘Saya mengkomsumsi, karenanya saya ada’, slogan ini rasanya memang berlebihan . Namun, sebuah tulisan Chua Beng Huat tentang tubuh-tubuh di mal Singapura menjadi fakta, manakala tubuh-tubuh modern tersebut dalam tulisan Chua Beng Huat ‘menciut dan mengembang’ diantara ‘kepungan’ pelbagai jenis produk dan iklan yang ada di mal. . Apakah tubuh-tubuh sekarang lantas adalah tubuh-tubuh yang tersubordinat dari sebuah produk/objek konsumer? Apakah benar kiranya, dalam kebudayaan material sekarang, tubuh individu modern sama sekali kehilangan makna eksistensialnya? Judith Williamson misalnya, membelakangi Boudrilard dengan memberikan pandangan positif pada subjek/ individu modern baginya konsumsi adalah kegiatan eksternalisasi, baginya sebagai media representasi ‘kekuasaan”.

Seseorang dapat menguasai objek-objek konsumernya untuk kebutuhan pertandaan. Seseorang dapat mengatur relasi objek-objek sebagai penanda status sosialnya. Dalam masyarakat konsumer relasi subjek dan objek lebih tepat dijelaskan melalui peran subjek sebagai konsumer. Pemisahan dan alienasi Marx semakin kehilangan makna karena selepas penat bekerja seseorang dapat menghanyutkan diri dalam ekstasi konsumsi, hiburan dan tontonan konsumerisme. Sebagai konsumer ia menginternalisasi apa yang diciptakan orang lain.

Kondisi ini menyebabkan filsafat Cartesian yang melekat pada Marx maupun Hegel “cogito ergo sum” atau berfikir karena aku ada, semakin kehilangan makna dan bermutasi menjadi aku mengkonsumsi, karenanya aku ada. Budaya konsumerisme itu sendiri adalah ditandai dengan konsumsi skizoprenik, mengkonsumsi bukan sekedar menghabiskan nilai guna atau nilai utilitas tetapi juga mengkomunikasikan makna-makna tertentu.

Menurut Baudrillard kita tidak lagi mengontrol objek tetapi dikontrol objek. Objek konsumsi semakin kompleks tetapi siklus percepatan dan tempo pergantiannya semakin cepat. Konsumsi bukan lagi makna-makna ideologis yang dicari melainkan kegairahan dan ekstasi pergantian objek-objek. Logika yang mendasari bukan lagi logika kebutuhan (need) melainkan logika hasrat (desire) seperti halnya hawa nafsu seksual yang imajiner atau bawah sadar lapangan psikoanalis. Konsumer skizoprenik menciptakan komodifikasi chronos (ini lalu ini lalu ini lalu ini) sampai titik terjauh. Revolusi yang diciptakan konsumerisme adalah hipermarket yang ditandai dengan berkembangnya mall, plaza, shopping centre, TV shopping, teleshopping, E-businnes yang telah mendekontruksi konsep-konsep tentang pasar, ruang, waktu, belanja dan transaksi.

Demokrasi Citra

Hipermarket adalah permainan bebas tanda yang bukan penyampaian makna dan kebenaran tanda melainkan bujuk rayu lewat kepalsuan tanda dan kesemuan makna, topeng simulasi yang menampilkan ilusi dan seolah-olah realitas. Subjek tersebut telah memperangkap konsumen dalam janji-janji hadiah dan rayuan mega bonus. Bukan hanya tempat lalu lintas barang dan jasa tetapi juga hasrat libido segala aspek kehidupan kapital seperti politik, seks, olah raga, pendidikan, kebugaran, tubuh, keamanan, bahkan kematian dapat dikomersialisasikan.

Demokrasi atau kebebasan memilih citra, tanda, dan gaya ditemntukan oleh elit, menjerat manusia dalam kekuasaan pasar, mensimulasi kebutuhan yang semakin beragam, digiring dalam dunia karnaval tanda, jutaan pesan-pesan. Menciptakan semacam penyeragaman budaya ketimbang penganekaragaman budaya. Meskipun bentuknya beraneka ragam, namun dimuati dengan gagasan dan ideologi kebudayan yang sama, sebuah neo-imperialisme kebudayaan yaitu McDonaldinasi.

Bukan hanya produsen yang berlomba-lomba mencari mangsa pasar baru untuk mengkloning kapitalnya, tetapi juga konsumen yang di setting untuk selalu mengkonsumsi sampai pada titik terjauh. Kebutuhan sekarang bukan melulu primer, skunder dan tersier, tetapi melampaui kebutuhan alami tersebut yang lebih mirip hasrat dan libido yang entah sampai dimana tapal batasnya, selalu menjadi link terhadap kebutuhan yang lain, yang baru dan seterusnya tanpa henti.

Bila kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi yang terjadi kemudian adalah chaos, kepanikan akan ketinggalan zaman, ketinggalan tren mode, kerugian kapital dan sebagainya. Kegiatan tersebut kemudian menjadi ekstasi, kemabukan dan kegilaan terhadap konsumsi, produksi, tren, gaya, modal ataupun kapital. Konsumsi sebagai satu proses menghabiskan atau mentransformasikan nilai-nilai yang tersimpan dalam sebuah objek.

Konsumsi dapat dipandang sebagai proses menggunakan atau mendekontruksi tanda-tanda yang terkandung dalam objek-objek para konsumer dalam rangka menandai relasi-relasi sosial (status, prestise dan simbol-simbol pemakainya).

Konsumsi dapat juga dipandang sebagai fenomena bawah sadar (unconscious) psikoanalis, dimana konsumsi sebagai proses produksi hasrat dan reproduksi pengalaman bawah sadar yang bersifat primordial. Konsumsi adalah substitusi atau pengganti dari kesenangan yang hilang tersebut.

Kehidupan

Masyarakat konsumer hampir seluruh energinya dipusatkan bagi pelayanan hawa nafsu, nafsu kebendaan, kekuasaan, seksual, ketenaran, popularitas, kecantikan, kebugaran, keindahan, kesenangan, sementara hanya menyisakan sedikit ruang bagi penajaman hati, kebijaksanaan, kesalehan dan pencerahan spiritual.

Ekonomi kapitalis merupakan ekonomi bujuk rayu atau ekstasi ekonomi, ekonomi ekstasi adalah sebuah sistem ekonomi dan kehidupan pada umumnya yang melepaskan diri dari kriteria struktural oposisi biner moral/amoral, baik/buruk, nilai guna/nilai tukar, yang disebut juga ekonomi libido yang memanfaatkan potensi kesenangan dan gairah yang tersimpan dalam diri tanpa takut akan tabu dan adat, gunakan dan pertontonkan sebebas-bebasnya keindahan penampilan, kepribadian, wajah, dan tubuh untuk membangkitkan gairah perputaran modal.

Uang dengan cepat kehilangan maknanya sebagai sistem ukuran bagi produksi dan nilai di dunia nyata. Dimanipulasi oleh para politisi dan bank sentral, dan kini dipercepat oleh tranfer dana elektronik (….).Uang kini semakin tidak bersentuhan dengan realitas. Wajah perekonomian global telah berkembang menjadi lebih bersifat virtual yang semu bagai fatamorgana, menginfeksi dan menjalar bagai virus dan mengapung berputar secara global bagaikan mengikuti sebuah orbit. Valuta asing, bursa saham, transfer dana, credit card, dan ATM telah merubah model uang konvensional, sistem ekonomi digiring pada sentralistik narasi agung kapitalisme.

Teori-teori ketergantungan yang dikembangkan Frank, Cardoso, maupun Dos Santos seolah-olah tenggelam di dalam ekstasi liberalisasi ekonomi dunia serta virus kapitalisme yang menjalar secara global. Utang luar negeri menjadi layaknya satelit bumi, menjadi sekumpulan kapital mengapung, yang tak henti-hentinya mengelilingi dan mengancam ekonomi real, pertumbuhan real. Dibawah bayang-bayang orbit utang mengapung ini sebuah pertumbuhan ekonomi berlangsung dengan seolah-olah utang itu tidak ada. (….)

Oleh : Amstrong Sembiring

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s